KOTA BENGKULU — Realisasi pendapatan negara dari sektor kepabeanan di Bengkulu masih jauh dari target. Dari target Rp58,92 miliar sepanjang 2026, baru terkumpul Rp1,75 miliar hingga akhir Mei. Meski begitu, beberapa pos penerimaan justru menunjukkan performa di luar dugaan.
Dari total Rp1,75 miliar yang masuk, sektor bea keluar menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp1,09 miliar. Angka ini melampaui target awal yang hanya Rp85,91 miliar? Tidak. Justru realisasi bea keluar masih jauh dari target tersebut. Namun, kontribusinya tetap paling signifikan dibanding sektor lain.
Sektor cukai mencatatkan pos menarik. Penerimaan dari denda administrasi cukai mencapai Rp654,23 juta, padahal targetnya nol rupiah. Ini artinya, ada pelanggaran administratif yang berujung pada pemasukan negara. Sementara itu, dana sawit menyumbang Rp409,49 juta.
Adapun bea masuk hanya tercatat Rp954 ribu dari target Rp6,22 juta. Kontribusinya paling kecil dalam struktur penerimaan kepabeanan Bengkulu.
Nazwar menjelaskan, realisasi pendapatan ini tidak lepas dari peran Pelabuhan Pulau Baai. Kelancaran bongkar muat di pelabuhan utama Bengkulu itu ikut membantu penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai. "Untuk persentase realisasi penerimaan dari target penerimaan kepabeanan di Provinsi Bengkulu adalah 2,04 persen dari total target yang mencapai Rp58,92 miliar," kata Nazwar di Kota Bengkulu, Selasa.
Di luar sektor kepabeanan, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan mencatat pendapatan negara Bengkulu hingga pertengahan Maret 2026 mencapai Rp409,50 miliar. Angka ini masih jauh dari target Rp3,33 triliun. Sektor industri pengolahan, khususnya komoditas sawit, menjadi motor utama pertumbuhan.
Rinciannya, penerimaan pajak menyumbang Rp286,28 miliar, sektor kepabeanan dan cukai Rp1,36 miliar, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp121,86 miliar. Irfan dari Kemenkeu mengimbau semua pihak membantu realisasi pendapatan negara demi mendorong ekonomi regional dan UMKM berorientasi ekspor.