Anggota DPD RI Destita Khairilisani Dorong Kain Besurek Bengkulu Naik Kelas, Generasi Muda Jadi Kunci Ekonomi Kreatif

Penulis: Sutomo  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 17:31:31 WIB
Anggota DPD RI Destita Khairilisani mendorong generasi muda mengembangkan kain Besurek sebagai identitas budaya dan peluang ekonomi kreatif di Bengkulu.

KOTA BENGKULU — Kain Besurek kembali diuji relevansinya di tengah arus modernisasi. Bukan sekadar kain bermotif, wastra khas Bengkulu ini kini diposisikan sebagai identitas budaya sekaligus sektor ekonomi yang bisa menghidupi masyarakat.

Destita mencontohkan busana berbahan Besurek yang dikenakannya saat acara. Karya perajin lokal itu dipadukan dengan sentuhan desainer dari Jakarta, membuktikan bahwa kain tradisional memiliki ruang luas untuk dikembangkan menjadi produk fesyen modern tanpa kehilangan karakter budayanya.

"Dari budaya lahir lapangan kerja, dari budaya lahir identitas, dan dari budaya lahir pendidikan karakter," ujarnya di hadapan peserta kegiatan.

Motif Besurek Simpan Nilai Filosofis dan Sejarah

Bagi Bengkulu, Besurek bukan sekadar kain dengan pola khas. Di balik goresan dan motifnya terdapat nilai sejarah, seni, filosofi, serta pesan kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Unsur kaligrafi dan doa yang terkandung di dalamnya menjadi pembeda utama dibanding produk sandang biasa.

Karena itu, pelestarian Besurek dinilai membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tidak hanya pemerintah dan perajin, tetapi juga generasi muda, pelaku industri kreatif, akademisi, budayawan, hingga masyarakat sebagai pengguna produk budaya tersebut.

Hadir dalam kegiatan itu Asisten III Setda Kota Bengkulu Tony Elfian, Kepala BPK Wilayah VII Bengkulu Iskandar Mulla Siregar, ahli waris maestro pelestari kain Besurek almarhum Alcala Gamora atau dikenal sebagai Pak Mori, serta budayawan Prof. Sarwit Sarwono.

Generasi Muda Diminta Kuasai Proses Produksi hingga Pemasaran

Destita secara khusus mengajak para pelajar yang hadir untuk tidak hanya mengenal Besurek sebagai pakaian tradisional. Generasi muda perlu memahami keseluruhan prosesnya, mulai dari sejarah, pembuatan motif, produksi, pengemasan, hingga pemasaran.

Ia mendorong pelajar melihat Besurek sebagai peluang kreativitas dan ekonomi yang dapat dikembangkan melalui teknologi serta media digital. Keberlangsungan warisan budaya, kata dia, sangat bergantung pada kemampuan generasi penerus menghidupkan tradisi dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman.

"Pelajari, tekuni, dan kembangkan. Jadikan Besurek sebagai identitas yang bisa dibanggakan dan bernilai ekonomi," pesannya.

Perajin dan Maestro Jadi Pilar Utama Pelestarian

Apresiasi juga disampaikan kepada para perajin dan maestro yang selama ini menjadi bagian penting mempertahankan keberadaan kain Besurek. Dedikasi almarhum Alcala Gamora atau Pak Mori disebut menjadi contoh bagaimana warisan daerah dapat bertahan karena adanya orang-orang yang konsisten merawatnya.

Sebagai anggota Komite III DPD RI yang membidangi seni dan budaya, Destita menyatakan komitmennya mendorong kebijakan di tingkat pusat yang memberikan perhatian terhadap perlindungan dan kesejahteraan pelaku kebudayaan daerah.

Masyarakat Bengkulu pun diajak membangun kebanggaan terhadap produk lokal. Cara paling sederhana adalah menggunakan kain Besurek dalam berbagai kesempatan, sehingga permintaan terhadap produk perajin lokal ikut tumbuh. Jika penggunaan semakin luas, rantai ekonomi di dalamnya berpotensi bergerak, mulai dari perajin, pengusaha bahan baku, pelaku fesyen, hingga sektor pemasaran.

Kegiatan Internalisasi Kriya dan Wastra Kain Besurek ditutup dengan prosesi pembukaan resmi serta doa bersama untuk mengenang almarhum Pak Mori. Doa tersebut menjadi penghormatan atas pengabdian seorang maestro yang sepanjang hidupnya turut menjaga seni rupa dan wastra Bengkulu.

Reporter: Sutomo
Sumber: teropongpublik.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top