BENGKULU — Materi budidaya kelapa sawit yang dipelajari di ruang kelas kini diuji langsung di lapangan. Rombongan pekebun dari Kabupaten Bengkulu Selatan itu diajak membandingkan teori dengan praktik nyata pengelolaan kebun di PT Bimas Raya Sawitindo, Rabu (12/8/2026).
Kunjungan ini menjadi bagian dari pelatihan sumber daya manusia perkebunan yang tidak hanya berhenti pada penyampaian materi secara teoritis. Para peserta berkesempatan melihat langsung bagaimana tahapan budidaya diterapkan, mulai dari pemancangan dan penentuan titik tanam, pemupukan, hingga proses penyemprotan.
Perwakilan PT Bimas Raya Sawitindo, Muhtadin AZ, mengatakan pembelajaran langsung memberikan pengalaman berbeda bagi para pekebun. Menurutnya, peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga bisa melihat bagaimana praktik budidaya diterapkan secara langsung di kebun.
“Tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga bisa melihat bagaimana praktik budidaya diterapkan secara langsung di kebun,” ujarnya.
Kunjungan tersebut juga menjadi ruang bertukar pengalaman. Peserta dapat menyampaikan persoalan yang mereka hadapi di kebun masing-masing untuk didiskusikan bersama tim BRS.
Setiawan, salah seorang peserta, menilai pembelajaran di lapangan membuat teori yang diperoleh selama pelatihan lebih mudah dipahami. Ia mengaku bisa membandingkan langsung materi kelas dengan praktik yang sebenarnya dilakukan di kebun.
“Kami bisa membandingkan teori yang sudah dipelajari dengan praktik yang sebenarnya dilakukan di kebun,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kesempatan berdiskusi langsung dengan praktisi. Berbagai persoalan teknis yang dihadapi pekebun dapat dibahas dan dicari solusinya bersama.
Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat bahwa produktivitas sawit tidak ditentukan oleh satu kegiatan tunggal. Keberhasilan budidaya justru bergantung pada rangkaian pengelolaan yang dilakukan secara tepat dan konsisten, di mana setiap tahapan saling berkaitan.
Para peserta didampingi Asisten Lapangan PT Bimas Raya Sawitindo, Nur Hakim dan Dendi Suryadi. Keduanya memberikan penjelasan mengenai praktik pengelolaan kebun sekaligus menjawab pertanyaan teknis yang diajukan para pekebun.