BENGKULU — Pelemahan rupiah kali ini bukan sekadar sentimen pasar sesaat. Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya yang dirilis Selasa (18/6), menyebut ada dua tekanan besar yang datang bersamaan dari eksternal dan internal.
Pemicu utama gejolak pasar adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Washington bahkan mengklaim memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi pasokan minyak dunia.
Klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang serius.
"Trump menegaskan kembali bahwa AS memegang kendali penuh atas Hormuz dan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, klaim yang keduanya dibantah oleh pihak Iran," kata Ibrahim.
Ketegangan kian meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim kembali menyerang kapal militer dan empat kapal pengawal Saudi di Laut Merah menggunakan rudal. Sementara itu, Iran dan Oman disebut telah mengisyaratkan adanya pembicaraan mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, namun belum ada kesepakatan konkret.
Dari dalam negeri, dampaknya langsung terasa pada neraca devisa. Dengan harga minyak mentah yang bertahan di atas USD83 per barel, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi otomatis membengkak.
Permintaan dolar yang tinggi untuk transaksi energi di pasar global ini berpotensi semakin memperkuat posisi mata uang AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Risiko inflasi akibat kenaikan harga energi membuat pelaku pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun. Hal ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Hasil risalah tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.