Program MBG Dianggap Bukan Sekadar Bantuan Gizi, Guru di Surabaya: Ini Bagian dari Cara Mempertahankan Kemerdekaan

Penulis: Sutomo  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:22:31 WIB
Siswa SMPN 23 Surabaya menerima makan bergizi gratis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

BENGKULU — Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 23 Surabaya mencatat adanya perubahan signifikan pada perilaku dan semangat belajar siswa sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Febrina Handayani, Koordinator MBG sekaligus guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah tersebut, mengamati langsung transformasi ini dari balik meja kerjanya setiap hari.

"Kalau saya lihat memang sebelum MBG itu memang anak-anak lebih sering ke kantin," katanya saat ditemui di sela aktivitasnya. Lebih dari Sekadar Mengisi Perut

Febrina menjelaskan, sebelum adanya program pemerintah ini, mayoritas siswa cenderung memilih jajanan praktis yang dijual di kantin sekolah. Sayangnya, pilihan makanan tersebut kerap kali jauh dari standar gizi dan nutrisi yang dibutuhkan anak-anak usia sekolah.

Namun, yang lebih krusial, ia menyoroti dampak MBG bagi siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Bagi mereka, jatah makan siang gratis ini bukan sekadar pelengkap, melainkan penopang utama asupan harian.

"Jadi, orang tua yang mungkin dengan kondisi ekonomi yang mepet ngasih uang saku ke anak misalnya hanya Rp5.000 saja, nah, itu akhirnya terbantu," ujar Febrina. Mengubah Lanskap Kesibukan Ibu Rumah Tangga

Di sisi lain, cerita serupa datang dari Nina Martina Iswandari, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Kali Rungkut, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Setiap hari, perempuan 45 tahun itu harus bangun sebelum subuh untuk menyiapkan bekal bagi tiga anaknya yang memiliki jadwal dan selera makan berbeda-beda.

"Jadi jam 06.00 WIB itu kalau bisa mereka sudah di sekolah. Otomatis saya kan kejar-kejaran waktu juga. Kadang-kadang ada kelewatan, terus ya ada malah kadang saya bilang 'nanti-nanti enggak nututin waktunya'. Ya namanya ibu-ibu ya kan, kadang ada capeknya, jadi butuh ekstra waktu juga," tuturnya.

Kehadiran MBG perlahan mengubah rutinitas tersebut. Meski tidak sepenuhnya menggantikan peran Nina di dapur, program ini secara efektif meringankan beban pengeluaran belanja harian keluarga.

"Terus habis itu juga pengeluaran juga otomatis ya, ya kalau kita emak-emak itu, ibu-ibu itu, ya segitu-gitu udah itu otomatis agak sedikit berkurang karena kan buahnya sudah ada, susunya sudah ada," imbuhnya. Menumbuhkan Semangat dan Interaksi Sosial

Dampak positif lainnya yang dirasakan Febrina adalah peningkatan fokus belajar di kelas. Ia menilai, perut yang terisi dengan makanan bergizi berkorelasi langsung dengan semangat siswa dalam menerima pelajaran.

"Alhamdulillah lebih fokus kalau ya mungkin bisa dikatakan ya, kalau perutnya sudah terisi itu berarti semangatnya untuk menerima ilmu di kelas juga lebih bertambah. Kelas ini juga ada komunikasi, kompak gitu kan," jelasnya.

Ia bahkan mengetahui ada dua hingga tiga siswa di SMPN 23 Surabaya yang menjadikan jatah MBG sebagai alasan utama untuk tetap hadir ke sekolah. Momen makan bersama juga dinilai mempererat interaksi sosial, terutama saat siswa saling berbagi makanan dengan teman yang tidak menghabiskan porsinya. Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Lebih jauh, Febrina memaknai program ini bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Ia mengaitkan keberadaan MBG dengan visi Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan generasi muda dengan ketahanan fisik dan kognitif mumpuni.

"Salah satu cara untuk kita itu mempertahankan negara ini dengan cara seperti MBG ini, iya kan?" tegasnya.

Menurutnya, mempertahankan kemerdekaan saat ini bukan lagi tentang mengangkat senjata, melainkan bagaimana menyiapkan generasi penerus sejak dini. Karena itu, ia menilai program MBG layak untuk dilanjutkan, mengingat tidak semua wali murid memiliki kesempatan, waktu, dan kemampuan finansial untuk membekali anak-anaknya setiap hari.

Reporter: Sutomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top