Upacara Adat Bengkulu yang Masih Dilestarikan hingga Kini

Penulis: Redaksi  •  Senin, 14 September 2026 | 12:00:31 WIB
Upacara adat Bengkulu masih dilestarikan dalam kehidupan masyarakat hingga kini.

BENGKULU - Upacara adat Bengkulu yang masih dilestarikan memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu tinggal sebagai cerita masa lalu.

Di Bengkulu, sejumlah upacara masih hadir dalam kehidupan masyarakat melalui perayaan keagamaan, siklus pertanian, perkawinan, kehidupan keluarga, hingga hubungan masyarakat pesisir dengan laut.

Upacara adat Bengkulu yang masih dilestarikan juga menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat berubah bentuk mengikuti zaman tanpa harus kehilangan ingatan kolektif yang menjadi akar keberadaannya.

Bengkulu memiliki latar budaya yang berlapis. Tradisi Melayu Bengkulu hidup berdampingan dengan kebudayaan Rejang, Serawai, Lembak, Kaur, Muko-Muko, Pekal, Enggano, dan kelompok masyarakat lainnya.

Karena itu, istilah upacara adat Bengkulu tidak merujuk pada satu ritual tunggal. Ada tradisi yang bersifat keagamaan, ada yang berhubungan dengan perkawinan, pertanian, kelahiran, kematian, hingga kehidupan nelayan.

Peraturan daerah mengenai pemajuan kebudayaan Bengkulu juga mendokumentasikan sejumlah upacara seperti Bimbang Gendang, Tabot, Kedurai, Sedekah Rame, Buang Jung, dan Bayar Sat.

Tabot, Tradisi Paling Ikonik dari Kota Bengkulu

Tabot menjadi salah satu tradisi yang paling mudah dikenali ketika membicarakan kebudayaan Bengkulu.

Tabot dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharam dan memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan penghormatan terhadap wafatnya Husain bin Ali dalam peristiwa Karbala.

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut mengalami perubahan makna dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Bengkulu.

Kajian mengenai dinamika kultural Tabot menunjukkan bahwa tradisi ini berkembang dari praktik bernuansa keagamaan menjadi perayaan yang memiliki bobot etnokultural yang kuat bagi masyarakat Bengkulu.

Pemerintah Provinsi Bengkulu juga mencatat Tabot sebagai perayaan tahunan yang berlangsung dari 1 sampai 10 Muharam.

Dalam perkembangannya, rangkaian Tabot tidak hanya berisi ritual, tetapi juga pameran, perlombaan, kesenian, serta aktivitas masyarakat.

Rangkaian Tabot yang perlu dikenal

Mengambik Tanah: mengambil tanah sebagai bagian awal rangkaian ritual.

Duduk Penja: berkaitan dengan penja atau benda simbolik yang menjadi bagian penting Tabot.

Menjara: rangkaian yang berkaitan dengan perjalanan dan aktivitas kelompok Tabot.

Arak Gedang: prosesi arak-arakan dengan suasana meriah.

Tabot Besanding: mempertemukan berbagai tabot yang telah dibuat.

Tabot Tebuang: menjadi salah satu bagian akhir rangkaian, ketika tabot dibuang atau dilarung sesuai tradisi.

Nama dan tata urutan teknis dapat berbeda berdasarkan kelompok Tabot dan perkembangan penyelenggaraan, sehingga jadwal resmi pemerintah daerah menjadi rujukan utama ketika hendak menyaksikan prosesi secara langsung.

Bimbang Gendang dalam Tradisi Perkawinan

Jika Tabot berkaitan dengan kalender Muharam, Bimbang Gendang berada dalam ranah kehidupan keluarga.

Bimbang Gendang merupakan rangkaian adat perkawinan masyarakat Bengkulu. Dokumen kebudayaan daerah mencatat tahapan yang berkaitan dengan persiapan pengantin, khatam Al-Qur'an, akad nikah, bersanding, tarian, serta Mandi Rendai setelah upacara tertentu selesai.

Tradisi ini menarik karena perkawinan tidak dipandang semata-mata sebagai peristiwa dua individu. Pernikahan menjadi momentum berkumpulnya keluarga, tetangga, tokoh adat, dan masyarakat.

Unsur yang dapat ditemukan dalam Bimbang Gendang

Persiapan kamar pengantin.

Penataan pelaminan.

Khatam Al-Qur'an bagi mempelai perempuan dalam konteks adat yang terdokumentasi.

Akad nikah.

Acara bersanding.

Pertunjukan atau hiburan tradisional.

Rangkaian Mandi Rendai.

Dalam praktik kontemporer, tidak seluruh keluarga menjalankan semua tahap dengan bentuk yang sama. Sebagian unsur dapat disederhanakan mengikuti kondisi keluarga, agama, waktu, dan biaya.

Kedurai dan Kedurai Agung sebagai Tradisi Syukuran

Tradisi pertanian memperlihatkan hubungan erat antara kebudayaan Bengkulu dengan siklus alam.

Kedurai merupakan upacara tahunan yang berkaitan dengan masa setelah panen. Dalam dokumen pemerintah daerah disebutkan bahwa masyarakat Curup mengenal bentuk upacara ini sebagai Kedurai Agung.

Makna utamanya berkaitan dengan rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus hubungan sosial dalam masyarakat.

Panen bukan hanya persoalan hasil sawah atau ladang, tetapi juga momentum untuk memperkuat hubungan antarkeluarga dan komunitas.

Hal yang membuat Kedurai penting

Menandai berakhirnya satu siklus pertanian.

Menjadi ruang berkumpulnya masyarakat.

Memperkuat rasa syukur.

Menjaga hubungan sosial antarkelompok.

Mengenalkan nilai tradisi kepada generasi muda.

Tradisi seperti ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan panggung besar. Sebuah ritual kampung yang dijalankan secara konsisten juga merupakan bentuk pelestarian.

Sedekah Rame dan Hubungannya dengan Pertanian

Sedekah Rame mempunyai karakter yang lebih kuat sebagai tradisi komunal.

Dokumen kebudayaan Bengkulu mencatat Sedekah Rame sebagai upacara adat yang berkaitan dengan kegiatan pertanian, mulai dari menyiangi sawah, pembibitan, menanam, hingga panen.

Dengan demikian, Sedekah Rame tidak hanya dilakukan setelah hasil pertanian diperoleh. Tradisinya berhubungan dengan keseluruhan siklus kerja masyarakat tani.

Nilai yang terkandung

Gotong royong: pekerjaan pertanian tidak dipahami sebagai urusan individu semata.

Syukur: hasil alam dipandang sebagai sesuatu yang patut disyukuri.

Kebersamaan: kegiatan pertanian menjadi ruang interaksi sosial.

Pewarisan: pengetahuan mengenai tradisi diteruskan melalui keterlibatan generasi muda.

Dalam konteks modern, nilai gotong royong tersebut tetap relevan meskipun cara bertani sudah mengalami banyak perubahan.

Buang Jung dan Kehidupan Masyarakat Pesisir

Tidak semua tradisi Bengkulu berkaitan dengan sawah dan perkawinan. Masyarakat pesisir mempunyai hubungan budaya yang kuat dengan laut.

Buang Jung merupakan upacara yang ditandai dengan membuang perahu kecil atau jung ke tengah laut. Dalam dokumentasi pemerintah daerah, tradisi ini dikaitkan dengan kegiatan penangkapan ikan di laut.

Perahu kecil dalam tradisi tersebut bukan sekadar benda. Ia dapat dibaca sebagai simbol hubungan antara manusia, laut, harapan, serta kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.

Mengapa Buang Jung menarik untuk dipelajari?

Menggambarkan kehidupan masyarakat nelayan.

Menunjukkan penghormatan terhadap laut.

Berkaitan dengan harapan atas hasil tangkapan.

Menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir.

Memperlihatkan bentuk kearifan lokal dalam menghadapi lingkungan.

Pelestarian tradisi seperti Buang Jung juga penting dari sisi pendidikan budaya karena generasi muda dapat memahami bahwa kehidupan masyarakat Bengkulu tidak hanya terbentuk dari sejarah perkotaan.

Bayar Sat sebagai Ungkapan Syukur

Ada pula tradisi yang lebih dekat dengan pengalaman pribadi dan keluarga.

Bayar Sat didokumentasikan sebagai upacara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas terkabulnya suatu keinginan.

Karakter ini membuat Bayar Sat menarik karena memperlihatkan bagaimana rasa syukur pribadi dapat diwujudkan dalam bentuk sosial dan adat.

Sebuah permohonan yang awalnya bersifat personal kemudian mendapatkan ruang dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah adat bekerja sebagai jembatan antara pengalaman individu dan komunitas.

Upacara dalam Siklus Kehidupan Masyarakat Bengkulu

Selain tradisi yang memiliki nama khusus, masyarakat Bengkulu juga mengenal berbagai upacara yang mengikuti tahap kehidupan manusia.

Dokumen pemerintah daerah mencatat sejumlah kegiatan adat yang berkaitan dengan kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian.

Dalam konteks khitanan, misalnya, terdapat tradisi arak-arakan anak menggunakan kuda dalam praktik masyarakat Bengkulu yang terdokumentasi.

Beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus hidup

Upacara mencukur rambut bayi.

Khitanan atau sunatan Rasul.

Bimbang dalam rangka perkawinan.

Bertindik bagi perempuan dalam tradisi tertentu.

Berdabung atau meratakan gigi dalam konteks adat lama.

Sedekah kaji setelah kematian.

Tidak seluruh bentuk tersebut memiliki praktik yang seragam saat ini. Sebagian bertahan dalam lingkungan keluarga atau komunitas tertentu, sementara sebagian lainnya lebih banyak dikenang melalui dokumentasi budaya.

Peran Kain Besurek dalam Upacara Adat

Tradisi tidak hanya berbentuk prosesi. Pakaian dan benda adat juga menyimpan cerita.

Kain besurek merupakan salah satu identitas budaya Bengkulu yang mempunyai hubungan erat dengan upacara adat.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat bahwa kain besurek dahulu digunakan dalam berbagai upacara, termasuk perkawinan, siraman atau mandi pengantin, berdabung, penutup jenazah, serta acara cukur bayi.

Motifnya dikenal memiliki unsur tulisan Arab serta perkembangan motif flora dan fauna.

Fungsi kain dalam konteks adat

Menjadi bagian pakaian atau perlengkapan pengantin.

Digunakan sebagai hiasan ruang pengantin.

Dipakai dalam prosesi tertentu.

Menjadi penanda visual identitas budaya Bengkulu.

Menghubungkanangan nasional dan Panglima Perang Diponegoro yang kemudian diasingkan ke Bengkulu. Ia memiliki makam berstatus cagar budaya di Kota Bengkulu, tetapi tidak tepat mengategor seni tekstil dengan ritual kehidupan.

Karena itu, pelestarian upacara adat sebaiknya berjalan bersama pelestarian benda dan keterampilan yang menyertainya.

Cara Menyaksikan Tradisi Adat Bengkulu dengan Tepat

Bagi wisatawan atau peneliti budaya, menyaksikan upacara adat membutuhkan sikap yang berbeda dari menonton pertunjukan biasa.

Tidak semua ritual merupakan tontonan publik. Sebagian memiliki bagian yang hanya boleh diikuti anggota komunitas atau pihak tertentu.

Etika ketika menghadiri upacara

Cari informasi mengenai jadwal dari pemerintah daerah atau komunitas adat.

Tanyakan bagian ritual yang boleh didokumentasikan.

Hindari masuk ke area prosesi tanpa izin.

Gunakan pakaian yang sopan.

Jangan menyentuh benda ritual tanpa persetujuan.

Hormati larangan mengambil foto pada bagian tertentu.

Utamakan memahami makna sebelum membuat konten.

Jika melakukan penelitian, mintalah izin kepada tokoh adat atau pengelola kegiatan.

Sikap tersebut penting agar pelestarian budaya tidak berubah menjadi sekadar eksploitasi visual.

Mengapa Tradisi Bengkulu Masih Bertahan?

Ketahanan sebuah tradisi tidak hanya ditentukan oleh pemerintah.

Keluarga, komunitas adat, seniman, sekolah, tokoh masyarakat, dan generasi muda mempunyai peran masing-masing.

Tabot, misalnya, telah mengalami perubahan makna sepanjang sejarah tetapi tetap bertahan sebagai identitas budaya Bengkulu.

Penelitian tentang Tabot bahkan menunjukkan bahwa unsur etnokultural menjadi semakin kuat dalam perjalanan tradisi tersebut.

Pelestarian juga dapat dilakukan dengan cara yang lebih modern.

Bentuk pelestarian yang relevan saat ini

Cari informasi mengenai jadwal dari pemerintah daerah atau komunitas adat.

Tanyakan bagian ritual yang boleh didokumentasikan.

Hindari masuk ke area prosesi tanpa izin.

Gunakan pakaian yang sopan.

Jangan menyentuh benda ritual tanpa persetujuan.

Hormati larangan mengambil foto pada bagian tertentu.

Utamakan memahami makna sebelum membuat konten.

Jika melakukan penelitian, mintalah izin kepada tokoh adat atau pengelola kegiatan.

Sikap tersebut penting agar pelestarian budaya tidak berubah menjadi sekadar eksploitasi visual.

Mengapa Tradisi Bengkulu Masih Bertahan?

Keluarga, komunitas adat, seniman, sekolah, tokoh masyarakat, dan generasi muda mempunyai peran masing-masing.

Tabot, misalnya, telah mengalami perubahan makna sepanjang sejarah tetapi tetap bertahan sebagai identitas budaya Bengkulu.

Penelitian tentang Tabot bahkan menunjukkan bahwa unsur etnokultural menjadi semakin kuat dalam perjalanan tradisi tersebut.

Bentuk pelestarian yang relevan saat ini

Dokumentasi video dan foto secara bertanggung jawab.

Pengajaran sejarah lokal di sekolah.

Pembuatan arsip digital.

Pelibatan generasi muda dalam kepanitiaan.

Pengembangan kerajinan pendukung ritual.

Festival budaya yang tetap menghormati struktur adat.

Penelitian akademik mengenai perubahan tradisi.

Yang paling penting adalah menjaga makna. Sebuah tradisi dapat berubah bentuk, tetapi pesan yang menjadi fondasinya sebaiknya tidak hilang.

FAQ

Apa upacara adat Bengkulu yang paling terkenal?

Tabot merupakan salah satu tradisi Bengkulu yang paling dikenal luas dan dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharam.

Apakah semua upacara adat Bengkulu masih dilakukan?

Tidak semua tradisi memiliki tingkat keberlangsungan yang sama. Ada yang masih rutin dilakukan dalam komunitas, sementara sebagian lainnya lebih banyak bertahan melalui dokumentasi dan kegiatan pelestarian.

Apa upacara adat yang berkaitan dengan pertanian?

Kedurai dan Sedekah Rame termasuk tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian dan panen.

Apa tradisi Bengkulu yang berhubungan dengan masyarakat nelayan?

Buang Jung merupakan salah satu tradisi yang terdokumentasi berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir dan kegiatan penangkapan ikan.

Mengapa kain besurek penting dalam adat Bengkulu?

Kain besurek memiliki sejarah penggunaan dalam berbagai upacara adat, terutama yang berkaitan dengan perkawinan dan siklus kehidupan.

Penutup

Tradisi tidak hidup karena tersimpan rapi di museum, melainkan karena masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

Dari Tabot di Kota Bengkulu hingga ritual pertanian dan kehidupan pesisir, upacara adat Bengkulu yang masih dilestarikan menyimpan satu pesan penting:

akar budaya akan tetap tumbuh selama masih ada generasi yang bersedia mengenal, menjalankan, dan mewariskannya.

Reporter: Redaksi
Back to top