Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu menyiagakan 16 personel untuk bersiaga 24 jam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Kesiapsiagaan diperketat seiring perkiraan BMKG bahwa intensitas hujan meningkat pada Oktober 2026, terutama di kawasan rawan genangan air. Tim unit reaksi cepat (URC) juga disiapkan untuk meluncur ke lokasi begitu bencana terjadi.
KOTA BENGKULU — Selain menyiagakan personel penuh waktu, BPBD Kota Bengkulu menyiapkan tim unit reaksi cepat (URC) yang bertugas langsung ke lokasi kejadian begitu laporan bencana masuk. Langkah itu diambil untuk mempercepat proses penanganan dan membantu warga terdampak sebelum kondisi memburuk.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bengkulu I Made Ardana menyebut peningkatan kesiapsiagaan dilakukan menyusul perkiraan BMKG bahwa musim penghujan tiba pada Oktober 2026. Pihaknya tidak menunggu bencana terjadi untuk bergerak.
Made meminta warga membersihkan saluran air dari sampah dan menjaga kebersihan lingkungan sejak sekarang. Menurut dia, pencegahan paling murah adalah memastikan air hujan punya jalur keluar yang lancar.
"Menjelang musim penghujan yang diperkirakan BMKG akan terjadi pada Oktober 2026 maka antisipasi yang dilakukan oleh BPBD mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk membersihkan saluran air dari sampah, menjaga kebersihan lingkungan guna mengantisipasi terjadinya banjir," kata Made di Bengkulu, Minggu.
Warga juga diminta mengantisipasi pohon rawan tumbang di sekitar permukiman. Saluran air yang tersumbat dan pohon lapuk disebut menjadi dua pemicu utama kejadian yang bisa dicegah.
Kondisi cuaca belakangan tidak menentu, dengan hujan dan angin kencang datang silih berganti. Pola itu berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di kawasan rawan genangan.
Anshar meminta warga mengurangi aktivitas di luar rumah saat cuaca buruk. Warga juga diminta menghindari berteduh maupun memarkir kendaraan di bawah pohon besar dan papan reklame ketika hujan lebat disertai angin kencang.
Pohon dan reklame dinilai berisiko tumbang sewaktu-waktu dalam kondisi tersebut. Risiko itu disebut lebih besar ketimbang manfaat berteduh di lokasi yang tidak aman.
BPBD Kota Bengkulu memetakan banjir, tanah longsor, dan genangan air sebagai ancaman utama selama musim penghujan. Kawasan rawan genangan menjadi perhatian khusus karena dampaknya langsung dirasakan warga permukiman.
Personel yang siaga 24 jam disiapkan untuk merespons setiap kejadian yang membutuhkan penanganan cepat. Dengan begitu, evakuasi dan bantuan bisa berjalan tanpa menunggu laporan menumpuk.
Warga yang menemukan tanda-tanda bahaya seperti air sungai naik cepat atau tebing retak diminta segera melapor ke BPBD. Kesiapsiagaan dinilai bergantung pada kecepatan informasi dari warga sendiri.