4 Film dengan Protagonis Bukan Orang Baik, dari How to Make a Killing hingga Marty Supreme

Penulis: Yasir  •  Senin, 28 September 2026 | 19:06:01 WIB
Glen Powell memerankan Becket Redfellow dalam film How to Make a Killing.

BENGKULU — Sejumlah film terbaru menempatkan tokoh utama yang jauh dari sosok pahlawan konvensional, mulai dari pembunuh berdarah dingin hingga karyawan yang perlahan mengubah moralnya. How to Make a Killing, Send Help, Marty Supreme, dan Bugonia menawarkan antagonisme personal dengan latar belakang dan motivasi berbeda. Keempatnya membuat penonton menimbang ulang batas antara korban, pelaku, dan pihak paling bersalah.

Sineas masa kini kian berani membalik ekspektasi penonton lewat tokoh sentral yang tidak bisa digolongkan sebagai orang baik. Alih-alih menghadirkan pahlawan konvensional, film-film ini menempatkan penonton pada posisi dilematis saat mengikuti perjalanan tokoh dengan moral amburadul, ambisi berlebihan, hingga keputusan ekstrem.

Daya tariknya terletak pada permainan perspektif. Penonton bisa mendukung perjuangan seorang tokoh di awal cerita, lalu perlahan menyadari ada sisi gelap di balik setiap keputusannya. Pergeseran simpati inilah yang membuat narasi semacam ini terasa lebih menggigit dibanding kisah pahlawan biasa.

1. How to Make a Killing (2026)

John Patton Ford, sutradara Emily the Criminal, kembali menggarap kisah moral abu-abu lewat film ini. Glen Powell memerankan Becket Redfellow, didampingi Margaret Qualley sebagai Julia, Jessica Henwick sebagai Ruth, Ed Harris sebagai Whitelaw Redfellow, Bill Camp sebagai Warren Redfellow, Topher Grace sebagai Pastor Steven J. Redfellow, dan Zach Woods.

Cerita dibuka dari akhir: Becket menunggu eksekusi dalam empat jam dan dengan santai menuturkan kisah hidupnya kepada seorang pastor dari balik jeruji. Penonton lalu diajak mundur ke masa lalu, ketika ibunya hamil saat masih remaja dan diusir oleh Whitelaw Redfellow, sang ayah yang dingin dan kejam. Becket tumbuh sebagai anak ibu tunggal kelas pekerja di New Jersey.

Semua berubah ketika ia tahu dirinya berada di urutan kedelapan daftar pewaris kekayaan keluarga Redfellow. Demi menguasai warisan, Becket menyingkirkan kerabatnya satu per satu, dimulai dari sepupunya, pria pesta dari Wall Street yang digambarkan berlebihan hingga terasa seperti karakter kartun.

Becket adalah pembunuh berdarah dingin yang merencanakan setiap langkahnya secara matang. Pesona Glen Powell plus latar keluarga kaya yang menyebalkan justru membuat penonton ikut berpihak kepadanya. Film ini terinspirasi komedi klasik Ealing berjudul Kind Hearts and Coronets (1949). Sebagian kritikus memuji twist tak terduga di bagian ketiga, meski ada pula yang menilai perpaduan komedi gelap, satire eat the rich, dan thriller-nya belum sepenuhnya rapi.

2. Send Help (2026)

Sam Raimi menyutradarai film yang mempertemukan Rachel McAdams, Dylan O'Brien, Edyll Ismail, Xavier Samuel, Chris Pang, dan Dennis Haysbert. McAdams berperan sebagai Linda Liddle, karyawan dengan kemampuan angka mumpuni yang sempat dijanjikan posisi VP oleh CEO lama.

Setelah pergantian pimpinan, CEO baru Bradley Preston yang diperankan Dylan O'Brien menyerahkan posisi itu kepada teman kuliahnya. Bradley digambarkan sebagai nepo baby yang nyaris tidak peduli pada Linda. Ia lantas mengajak Linda ikut perjalanan bisnis ke luar negeri. Pesawat pribadi mereka jatuh, hanya Linda dan Bradley yang selamat, dan keduanya terdampar di pulau tak berpenghuni.

Hierarki kantor pun terbalik. Bradley yang berkuasa di perusahaan kini bergantung penuh pada Linda untuk bertahan hidup. Pada awal cerita, Linda tampil sebagai karyawan yang dirugikan sehingga mudah disimpati. Perubahan karakternya dibangun perlahan, dan bagi sebagian penonton proses itu menguji kesabaran.

Di titik itulah film mulai menggeser persepsi: simpati diarahkan ke satu karakter, lalu perlahan dipindahkan hingga muncul pertanyaan siapa sebenarnya sosok paling berbahaya di pulau tersebut. Nuansa khas Sam Raimi hadir lewat campuran thriller psikologis gelap, humor, permainan kuasa, dan strategi bertahan hidup.

3. Marty Supreme (2025)

Josh Safdie menyutradarai film yang dibintangi Timothée Chalamet dan Gwyneth Paltrow. Keduanya memerankan tokoh dengan dinamika relasi yang menjadi salah satu daya tarik utama cerita.

4. Bugonia

Bugonia melengkapi daftar lewat karakter Teddy, yang menawarkan bentuk antagonisme personal berbeda dari tiga film sebelumnya. Ia memiliki latar belakang, motivasi, dan cara menghadapi masalah yang khas, sehingga memperlihatkan bahwa protagonis bukan orang baik tidak selalu berarti kisah tentang penjahat tanpa sisi manusiawi.

Keempat film ini sama-sama menolak formula pahlawan yang mudah ditebak. Penonton diajak mengikuti tokoh yang sulit diprediksi sejak awal, lalu dipaksa menentukan sendiri di mana garis antara korban, pelaku, dan pihak paling bertanggung jawab.

Pertanyaan Seputar Berita Ini

Film How to M?
ke a Killing terinspirasi dari film apa? A: Komedi klasik Ealing berjudul Kind Hearts and Coronets (1949).

Reporter: Yasir
Sumber: kapanlagi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top