BENGKULU — Ruben Onsu menegaskan gugatan hak asuh anaknya bukan untuk mencari keributan, melainkan meminta kepastian bertemu buah hatinya. Lewat unggahan Instagram pribadinya, ia menyoroti keterlibatan Komnas Perlindungan Anak dan meminta publik tak menyeret anak-anak ke perdebatan media sosial.
Persoalan hak asuh anak antara Ruben Onsu dan Sarwendah masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ruben memilih menjawab lewat unggahan Instagram pribadinya pada Sabtu (3/10/2026), bukan melalui konferensi pers resmi.
Ia mengaku sudah menerima undangan dari Komnas Perlindungan Anak (Komnas Anak). Namun, jadwal pekerjaan rutinnya bentrok, sementara ia sedang fokus mendampingi anaknya yang butuh perhatian lebih.
Ruben menjelaskan bahwa surat resmi terkait persoalan ini akan dijawab oleh pengacaranya, Minola Sebayang, pada Senin mendatang. Ia menyebut unggahan itu sebagai bentuk keseimbangan informasi.
"Maaf jika saya menjawab lewat postingan, anggap aja ini prescon beda nya ini saya lewat sosmed. Untuk surat resmi nya nanti senin pengacara saya @minola6000 yg akan menjawab, jadi impas ya /berimbang ya postingan ini," tulis Ruben.
Ruben menekankan bahwa masalah hak asuh anaknya sedang diproses di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ia meminta semua pihak menunggu putusan pengadilan, bukan saling berdebat di ruang publik.
"Saya perlu menyampaikan kalau masalah ini sedang berproses di Pengadilan Negri Jakarta Selatan jadi mari kita hormati proses tersebut," ujarnya.
Menurut Ruben, pengaduan ke Komnas Anak tidak mengubah pokok persoalan yang tengah dibahas di pengadilan. Ia menyayangkan persoalan ini terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.
Ruben meminta publik tidak melibatkan anak-anaknya dalam perdebatan media sosial. Permintaan ini muncul karena konflik orang tua yang dibawa ke ruang publik berpotensi membuat anak merasa tidak aman.
Anak yang terpapar konflik orang tua di media sosial bisa mengalami stres, cemas, hingga menarik diri dari lingkungannya. Karena itu, banyak psikolog anak menyarankan agar persoalan hak asuh diselesaikan secara tertutup dan fokus pada kebutuhan anak.
Ketika konflik perceraian mulai memengaruhi perilaku anak, jangan ragu mencari bantuan psikolog anak atau konselor keluarga. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak jadi pendiam, sulit tidur, atau prestasi sekolah menurun.
Konsultasi dengan psikolog bisa membantu orang tua menyusun pola asuh bersama yang tetap menempatkan anak sebagai prioritas. Proses hukum di pengadilan tetap berjalan, tetapi kebutuhan emosional anak tidak boleh terabaikan.
Kasus Ruben Onsu dan Sarwendah menjadi pengingat bahwa di balik polemik hak asuh, ada anak-anak yang butuh rasa aman. Menghormati proses hukum sambil menjaga komunikasi dengan anak adalah langkah paling bijak yang bisa dilakukan orang tua.