BENGKULU — Komunitas Vespa Indonesia menempati posisi kedua terbesar di dunia setelah Italia, dengan basis penggemar yang menyebut diri Rebel Riders. Mereka membangun "Extreme Vespa" dari log kayu, bambu, dan pelat besi, bermodal mesin 98cc yang sama. Jaringan basecamp mereka tersebar di enam pulau utama dan dihubungkan lewat grup WhatsApp rahasia.
Piaggio membuka pabrik di Jakarta pada dekade 1970-an dan mengubah lanskap transportasi nasional. Data National Geographic mencatat sekitar 85% penduduk kepulauan saat itu memiliki skuter, dan komunitas penggemar Vespa tumbuh jadi salah satu yang terbesar di dunia. Hanya Italia, negara asal merek ini, yang punya basis penggemar lebih besar.
Krisis finansial Asia yang menghantam pada 1997 membuat harga Vespa melonjak di luar jangkauan warga. Pabrik menghentikan produksi Vespa pada 2001. Mereka yang masih butuh transportasi murah beralih memperbaiki dan merakit ulang unit lama beserta komponennya.
Dari kebiasaan itu, kreativitas berkembang. Komunitas Extreme menemukan cara memasang mesin Vespa 98cc ke hampir semua bentuk rangka. Modifikasi yang awalnya soal bertahan hidup berubah jadi ekspresi.
Salah satu nama yang paling dikenal adalah Neo, pemilik akun neovespapohon_87. Kepada YouTuber Sam, Neo bercerita bahwa Vespa-nya dibangun dari batang kayu yang ia temukan tumbang di jalan. Seperti banyak pemilik Extreme Vespa lain, Neo harus belajar sendiri menyusun kabel dan tuas untuk mengoperasikan mesin serta transmisinya.
Pedal koplingnya dibuat dari kunci pas. Kopling dan gas dipasang di dahan yang mencuat dari batang kayu. Dari kejauhan, bentuknya seperti dahan besar yang diseret di jalan raya. Di Indonesia, itu Vespa.
Bentuk lain lebih liar. Ada yang memakai panel logam bersudut mirip kendaraan Mad Max, ada yang berupa konstruksi dua tingkat dari kayu tua dan bambu. Dalam video Sam, satu Extreme Vespa bahkan memakai tali sebagai pedal gas.
Sebaliknya, ada juga yang dirancang praktis dan multifungsi. Akun scotty-molins membangun Vespa gerobak kopi, berupa bar kecil beratap di atas trailer dengan bangku samping dan struktur baja berisi roda depan serta sistem kemudi. Kendaraan itu jadi tujuan tersendiri di jalanan Jakarta.
Banyak Extreme Vespa dibangun karena kebutuhan, sekaligus menyalurkan dorongan kreatif pemiliknya. Para Rebel Riders kerap berkumpul di basecamp untuk mempelajari cara merakit kendaraan ini. Jumlah rodanya bisa dua, bisa juga sebelas.
Seiring waktu, rider membangun jaringan basecamp di berbagai pulau. Di sana mereka bisa mengerjakan Vespa sebagai tukar tempat tidur, makan, dan bahan bakar. Sebagian pengelola basecamp adalah mantan Rebel Riders yang pensiun dari kebiasaan berpindah pulau. Setiap kunjungan dan tujuan dikomunikasikan lewat grup WhatsApp rahasia.
Extreme Vespa bukan pemandangan sulit di jalanan Indonesia. Untuk melihat yang benar-benar istimewa, pengamat harus datang ke pertemuan akbar yang digelar sekali setahun di masing-masing dari enam pulau utama. Acara ini dipromosikan lewat kanal media sosial dan jadi titik temu para nomaden selama dua hari penuh.
Rangkaian pertemuan itu berfungsi sebagai jangkar budaya bagi komunitas yang bergerak terus. Vespa 98cc, mesin yang usianya sudah puluhan tahun, tetap jadi satu-satunya benang merah yang menyatukan semua kreasi.