Film Artificial Tayang Perdana di NYFF, Kisah Awal Mula OpenAI dan Sam Altman

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 19:04:01 WIB
Sutradara Luca Guadagnino menghadiri penayangan perdana film Artificial di New York Film Festival ke-64.

BENGKULU — Luca Guadagnino membawa film terbarunya, Artificial, ke panggung world premiere di New York Film Festival ke-64. Film ini mengangkat kisah awal mula OpenAI dan sosok Sam Altman, setelah ditinggalkan Amazon MGM Studios yang justru menanam investasi besar di perusahaan AI tersebut. Neon, studio di balik Anora, kini menaungi distribusinya.

Penayangan perdana Artificial berlangsung di New York Film Festival ke-64 dan langsung menjadi salah satu film paling dibicarakan di ajang tersebut. Kepala program NYFF, Dennis Lim, menyebut film ini datang di momen yang tepat untuk memahami bagaimana dunia sampai ke titik krisis AI seperti sekarang.

Keputusan Amazon MGM Studios mundur dari proyek ini terjadi setelah induk perusahaannya menanam investasi 50 miliar dolar AS di OpenAI. Konflik kepentingan itu membuat film yang mengkritik keras Sam Altman dan sekutunya sulit mendapat tempat di studio besar. Artificial akhirnya berpindah ke Neon.

Sinopsis: Dari Toronto ke Ruang Rapat OpenAI

Film ini mengikuti perjalanan Ilya Sutskever, imigran Rusia yang idealistis dan canggung secara sosial, saat datang ke kantor Geoffrey Hinton di University of Toronto pada 2003. Hinton, salah satu "godfather AI" yang kemudian meraih Nobel, membimbing Sutskever hingga keduanya pindah ke Google di kawasan Bay Area.

Pada 2014, Sutskever bertemu Sam Altman di sebuah konferensi. Altman, yang saat itu baru berusia 30 tahun namun sudah mapan di Silicon Valley, membujuknya bergabung dengan OpenAI yang masih muda sebagai chief science officer. Sutskever digambarkan sebagai Wozniak bagi Jobs-nya Altman, sosok yang membuat ambisi LLM OpenAI mungkin terwujud.

Konflik mulai muncul lewat pertemuan makan malam antara Altman, Elon Musk, Greg Brockman, dan sejumlah nama lain. Sutskever perlahan menyadari bahwa ilmu yang ingin ia kembangkan untuk menyelamatkan dunia justru menjadi modal Altman membangun kekuatan finansial. Puncaknya adalah ChatGPT yang dirilis November 2022 dan mengguncang industri, bahkan sebagian karyawan OpenAI sendiri.

Kudeta November 2023 dan Sosok Jacob Coxon

Film ini juga menyoroti peristiwa yang dikenal sebagai Kudeta November 2023. Saat itu, CEO Microsoft Satya Nadella dan sejumlah loyalis OpenAI mendukung Altman hingga ia kembali ke kursi CEO dengan posisi yang lebih kuat dari sebelumnya. Guadagnino menempatkan momen itu sebagai penanda kemenangan kapitalisme atas idealisme di tubuh OpenAI.

Menjelang akhir 2026, Artificial juga menampilkan sosok peneliti AI dan whistleblower Jacob Coxon. Ia memperingatkan soal bahaya dari perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI yang disebutnya mengabaikan aspek keselamatan demi mengejar kecepatan. Pada waktu yang hampir bersamaan, Coxon tampil di acara The Daily Show bersama Jon Stewart, yang oleh sejumlah komentator disebut sebagai episode paling serius dan mencekam.

Alasan Guadagnino dan Simon Rich Menggarap Film Ini

Guadagnino menyebut ketertarikannya pada subjek ini muncul karena AI, meski identik dengan dunia matematika dan komputer, tetap lahir dari manusia dan hidup dalam ruang interaksi mereka. Pernyataan itu ia sampaikan langsung dari panggung NYFF.

Penulis skenario Simon Rich mengaku tertarik pada isu ini setelah seorang teman masa kecilnya bercerita soal kemungkinan AI puluhan tahun lalu. Teman tersebut kemudian berkarier di industri ini, mendorong Rich, mantan penulis Saturday Night Live dan Pixar, untuk menulis naskah Artificial.

"Saya tidak terlalu karismatik atau tampan, tapi sebagai upaya terakhir memperingatkan umat manusia, saya menulis film ini. Saya berharap setidaknya beberapa orang memperhatikan," ujar Rich.

Film ini digambarkan sebagai kisah perlahan yang tidak akan mengejutkan mereka yang mengikuti perjalanan Altman dan OpenAI. Meski begitu, Artificial tetap menawarkan gambaran kaya soal bagaimana integritas dan kehati-hatian berulang kali dikorbankan di altar finansial Silicon Valley.

Bagi penonton Indonesia yang mengikuti perkembangan AI global, Artificial menjadi salah satu film paling relevan tahun ini karena menyentuh langsung persoalan etika, keselamatan, dan kuasa korporasi di balik teknologi yang kini dipakai jutaan orang setiap hari.

Reporter: Sutomo
Sumber: hollywoodreporter.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top