BENGKULU — Nilai tukar rupiah dibuka menguat 43 poin atau 0,24% ke level Rp18.141 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi. Posisi tersebut berbalik dari penutupan sebelumnya di Rp18.184 per dolar AS, sekaligus memutus rentetan pelemahan yang berlangsung sepanjang pekan.
Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan pagi menandai pembalikan arah setelah tekanan berturut-turut dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, rupiah tercatat masih melemah 18 poin atau 0,10% terhadap dolar AS hingga penutupan kemarin.
Pelemahan beruntun itu terlihat sejak awal pekan. Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, kurs rupiah melorot ke posisi Rp18.174 per dolar AS, turun dibandingkan penutupan transaksi sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang lokal tidak berhenti di sesi pembukaan. Pada penutupan perdagangan Rabu sore, rupiah melemah lagi 28 poin atau 0,15% menjadi Rp18.184 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.
Pelemahan itu juga tercermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Kurs JISDOR bergerak melemah ke level Rp18.183 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.139 per dolar AS.
Penguatan 0,24% memang tipis, tetapi cukup memberi sinyal bahwa tekanan jual terhadap rupiah mulai mereda di awal sesi. Bagi importir yang memegang kewajiban valas jangka pendek, posisi Rp18.141 membuka ruang untuk mengeksekusi pembayaran pada level yang lebih rendah dibandingkan penutupan Rabu.
Sebaliknya, eksportir yang belum mengonversi hasil penjualan valas mendapat harga yang sedikit kurang menguntungkan dibandingkan sehari sebelumnya. Selisih 43 poin per dolar AS tetap berarti bagi transaksi bernilai besar, terutama di sektor yang marginnya tipis.
Pergerakan rupiah sepanjang pekan memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan melemah sebelum akhirnya berbalik menguat. Kurs sempat berada di Rp18.156 pada penutupan awal pekan, lalu naik ke Rp18.174 pada pembukaan Rabu, dan berakhir di Rp18.184 pada penutupan sore hari yang sama.
Level Rp18.141 menjadi titik uji pertama apakah penguatan pagi ini berlanjut hingga penutupan atau hanya bersifat sementara. Pasar akan mencermati apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.184 yang menjadi level penutupan terakhir.
Bagi investor obligasi dan pelaku pasar uang, arah kurs dalam beberapa sesi ke depan menentukan daya tarik imbal hasil riil instrumen rupiah. Pelemahan beruntun sebelumnya sempat menekan ekspektasi return valas, sehingga penguatan hari ini memberi angin segar meski skalanya masih terbatas.