BENGKULU — Banyak ibu yang sedang menurunkan berat badan langsung mencoret nasi dari menu harian karena takut berat badan naik. Padahal spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK menegaskan nasi putih tidak perlu dihindari asal porsi dan jenisnya tepat. Simak panduan lengkapnya untuk menu diet sehari-hari.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK menyampaikan hal itu dalam siaran langsung TikTok detikHealth. Menurut dr Yaze, nasi bukan penyebab utama berat badan naik jika dikonsumsi dengan takaran yang sesuai kebutuhan kalori.
Kekhawatiran soal nasi putih memang wajar. Nasi kerap dituding sebagai biang perut buncit. Namun anggapan itu perlu diluruskan, terutama bagi ibu yang ingin tetap makan bersama keluarga tanpa harus memasak menu terpisah.
dr Yaze menegaskan nasi tetap boleh masuk menu harian, termasuk untuk sarapan. Yang paling menentukan adalah porsi dan jenis nasi yang dipilih, bukan ada atau tidaknya nasi di piring.
"Nasi itu nggak perlu dimusuhin, nggak apa-apa makan aja. Tapi memang tahu porsinya. Jadi kalau misalnya sarapannya masih pakai nasi, boleh," jelas dr Yaze.
Ia juga menepis anggapan bahwa nasi putih otomatis membuat kalori melonjak. Menurutnya, nasi putih tidak jahat selama jumlahnya dikendalikan.
Saat diet, dr Yaze menyarankan memilih nasi putih, nasi merah, atau nasi porang. Hindari nasi uduk dan nasi kuning karena biasanya diolah dengan santan dan tambahan lemak yang membuat kalorinya lebih tinggi.
Bagi yang lebih nyaman dengan nasi putih, tidak masalah tetap memakainya. dr Yaze menyebut nasi putih tetap boleh dikonsumsi meski ada pilihan nasi merah.
"Terus kalau misalnya cuma ada nasi putih atau memang lebih suka nasi putih dibanding nasi merah, ya nggak apa-apa juga, nggak ada masalah," ujarnya.
Jumlah nasi yang pas berbeda untuk setiap orang. dr Yaze menjelaskan porsi nasi bergantung pada total kebutuhan kalori harian masing-masing.
Kalau sedang menjalani defisit kalori, jumlah sendok nasi per sekali makan perlu dihitung lebih teliti. Tujuannya agar asupan tidak melebihi batas yang sudah ditetapkan.
Untuk ibu menyusui atau yang aktif bergerak, kebutuhan kalori biasanya lebih tinggi. Konsultasikan takaran yang sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.
Mengatur porsi nasi jauh lebih realistis daripada menghapusnya sama sekali. Menu keluarga tetap bisa dinikmati, asal takarannya terjaga.
Bagi yang punya kondisi khusus seperti diabetes, kolesterol tinggi, atau sedang hamil, sebaiknya konsultasikan pola makan ke dokter atau ahli gizi. Kebutuhan kalori dan jenis karbohidrat bisa berbeda dari orang lain.
Program diet yang berhasil biasanya bukan yang paling ketat, melainkan yang paling bisa dijalani dalam jangka panjang. Nasi tetap di piring, porsinya saja yang diatur.