BENGKULU — Microsoft 365 Copilot kini mencatat 30 juta kursi berbayar dan tumbuh cepat, menurut karyawan divisi AI Microsoft, Nicolas Bustamante. Angka itu muncul setelah Microsoft mencabut brand Copilot+ dari lini laptopnya, langkah yang sempat memicu anggapan bahwa asisten AI raksasa Redmond ini mulai kehilangan pamor. Klaim Bustamante menyoroti sisi enterprise yang jarang terlihat di lingkaran teknologi konsumen.
Nicolas Bustamante, yang bekerja di divisi AI Microsoft, mengungkap angka tersebut lewat unggahan di platform X. Ia merespons sebuah balasan yang mempertanyakan apakah masih ada orang yang memakai Copilot. Alih-alih menjawab singkat, Bustamante memaparkan pengalamannya sendiri sebelum terjun ke bidang AI.
Sebelum terlibat di proyek AI, ia mengaku hanya mengenal sekitar lima orang yang memakai Copilot. Kini, menurutnya, Microsoft 365 Copilot telah menembus 30 juta kursi berbayar dan terus bertambah. Ia menyebut kemampuan Copilot mengolah data internal perusahaan sambil memenuhi syarat privasi dan kepatuhan sebagai faktor utama di balik pertumbuhan itu.
Mengapa Perusahaan Besar Bertahan dengan Copilot
Bustamante menilai daya tarik utama Copilot bagi korporasi bukan sekadar kecerdasan modelnya. Asisten ini dirancang menyatu dengan data yang sudah tersimpan di ekosistem Microsoft 365, sehingga perusahaan tidak perlu memindahkan arsip atau dokumen sensitif ke layanan pihak ketiga.
Kepatuhan terhadap aturan privasi dan regulasi menjadi pertimbangan besar bagi perusahaan besar. Copilot menawarkan jalur yang relatif aman untuk memakai AI generatif tanpa melanggar kebijakan internal maupun aturan sektor, misalnya di bidang keuangan dan kesehatan.
Ia juga menyebut Copilot kini terhubung ke berbagai model AI sekaligus, termasuk dari Gemini, OpenAI, xAI, dan Anthropic. Dalam praktiknya, ia memakai Copilot CLI untuk urusan coding dan Copilot Cowork untuk obrolan sehari-hari.
Kesenjangan Persepsi di Kalangan Pengguna Teknologi
Menurut Bustamante, anggapan bahwa Copilot sepi pengguna muncul dari gelembung teknologi San Francisco. Ia berpendapat, orang-orang di lingkaran itu umumnya berinteraksi dengan karyawan perusahaan rintisan berukuran kecil, sehingga jarang melihat dunia enterprise tempat Copilot dipakai sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa Copilot dipakai untuk pekerjaan nyata dan sebagian besar penggunanya menyukainya. Pernyataan itu ia sampaikan langsung di utas balasan unggahannya, bukan lewat siaran pers resmi Microsoft.
Ada catatan penting soal angka 30 juta kursi berbayar. Langganan Microsoft 365 Copilot tidak otomatis berarti semua pelanggan memakai fitur asistennya. Sebagian bisa jadi hanya memakai aplikasi produktivitas bawaan dan mengabaikan Copilot. Meski begitu, Microsoft tampak yakin asisten ini diterima baik di kalangan bisnis besar.
Konteks Pencabutan Brand Copilot+
Keraguan soal masa depan Copilot muncul setelah Microsoft menghapus label Copilot+ dari laptop-laptopnya. Pencabutan brand itu sempat dibaca sebagai sinyal bahwa perusahaan mengurangi ambisi di segmen PC berbasis AI.
Namun langkah tersebut tampaknya tidak mencerminkan kondisi bisnis Copilot secara keseluruhan. Fokus Microsoft kini lebih terlihat pada penetrasi di sektor enterprise ketimbang pemasaran label konsumen. Bagi pengguna di Indonesia, Copilot sendiri sudah tersedia lewat langganan Microsoft 365 dan sejumlah perangkat Windows, meski penetrasinya di pasar lokal masih kalah dari asisten AI global lain seperti ChatGPT dan Gemini.
Bustamante menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa ia memakai Copilot setiap hari dan puas dengan hasilnya. Klaim itu tetap perlu dibaca sebagai pandangan seorang karyawan, bukan data resmi yang diaudit independen.