BENGKULU — Universitas Syiah Kuala (USK) menghadapi lima tantangan besar dalam menciptakan nilai tambah sumber daya Aceh, mulai dari hilirisasi komoditas pertanian hingga daya saing global. Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK Dr. Safrizal ZA menegaskan kampus tidak boleh hanya besar nama, tapi harus mampu melahirkan industri pengolahan. Dengan anggaran Rp900 miliar, USK dituntut efisien dan inovatif di era Industri 5.0.
Paragraf pembuka: Rapat kerja USK mengangkat tema 'Penguatan good university governance, hilirisasi dan inovasi riset berkelanjutan serta peningkatan IKU menuju USK bereputasi global'. Safrizal ZA menyatakan setiap fakultas harus diberi tanggung jawab terukur untuk mencapai tujuan, lengkap dengan skor penilaian. Dekan yang gagal memenuhi target akan dievaluasi, sementara yang berhasil mendapat apresiasi.
Lima Tantangan yang Harus Dijawab USK
Safrizal membeberkan lima tantangan utama yang dihadapi USK dalam rapat kerja tersebut. Pertama, menciptakan nilai tambah untuk komoditas pertanian dari Aceh Tengah yang dikenal sebagai sentra pertanian di Aceh. Kedua, penguasaan teknologi — USK harus mampu menjadi kreator teknologi untuk menciptakan penghasilan yang bisa dijadikan modal inovasi.
Ketiga, USK dituntut melahirkan banyak riset. Keempat, mendorong talenta-talenta di USK agar memiliki nilai besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri. Kelima, dalam menghadapi kompetisi global, USK harus mampu mengubah sumber daya menjadi keunggulan.
Kampus Harus Dorong Lahirnya Industri Pengolahan
Safrizal menekankan USK sering disebut sebagai kampus besar, sehingga harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Menurutnya, Aceh kaya sumber daya tapi tidak memiliki industri memadai untuk mengolahnya menjadi nilai tambah.
"USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh mendapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah," kata Safrizal.
Dorong Bibit Unggul, Tekan Ketergantungan Impor
Safrizal juga berpesan agar USK mampu menciptakan bibit-bibit unggul di bidang pertanian. Selama ini, kata dia, Indonesia masih mengimpor berbagai kebutuhan pangan. Aceh sendiri hanya surplus padi sebelum bencana melanda.
"Kita selama ini impor semua kebutuhan. Kita hanya surplus padi sebelum bencana. Kampus harus mampu menciptakan benih dan bibit unggul untuk sektor pertanian. Supaya uang Aceh tidak semakin banyak mengalir ke luar," pungkasnya.
Efisiensi Anggaran dan Era Industri 5.0
Dengan anggaran yang hanya Rp900 miliar, USK memikul tanggung jawab besar. Efisiensi wajib diterapkan dan inovasi harus dilahirkan. Dunia saat ini berada dalam masa transisi menuju era Industri 5.0 dengan tiga pilar utama: human centric, sustainability, dan resilience. Tantangan di tahap ini semakin besar, sehingga penguasaan teknologi dan riset berkelanjutan menjadi kunci.
Penutup: Bagi USK, rapat kerja ini menjadi titik tekan bahwa status kampus besar harus dibuktikan lewat kontribusi nyata — bukan sekadar pengakuan. Jika lima tantangan itu dijawab dengan riset dan inovasi, sumber daya Aceh berpeluang berhenti sekadar dikirim keluar dan mulai diolah di rumah sendiri.