BENGKULU — Flashdisk USB menyimpan data dengan mengandalkan muatan listrik di sel memori yang perlahan bocor seiring waktu, sehingga file bisa rusak tanpa peringatan. Selain bit rot, siklus tulis yang terbatas dan risiko fisik membuat flashdisk lama tidak lagi aman jadi satu-satunya tempat penyimpanan. Pengguna yang masih menyimpan dokumen penting di sana sebaiknya segera menyalinnya ke media lain.
Teknologi transfer file lewat email, aplikasi chat, dan AirDrop membuat flashdisk USB kian jarang dipakai untuk berbagi data sehari-hari. File berukuran besar pun kini lebih praktis disimpan di layanan cloud seperti iCloud atau dipindahkan ke SSD eksternal berkapasitas penuh.
Meski begitu, banyak orang masih menyimpan arsip di flashdisk, entah karena kebiasaan atau karena koleksi file dari satu hingga dua dekade lalu belum dipindahkan. Harga memori yang terus naik juga jadi alasan tambahan untuk tidak buru-buru membeli perangkat penyimpanan baru.
Masalahnya, flashdisk lama menyimpan risiko yang jarang disadari pemiliknya. Ada batas waktu alami sebelum perangkat ini kehilangan kemampuan menyimpan data dengan aman.
Mengapa Flashdisk Lama Berisiko Kehilangan Data
Ukuran flashdisk yang mungil membuatnya rentan hilang atau rusak secara fisik. Perangkat ini bisa tertinggal di kantor, terlempar dari tas saat bepergian, atau lenyap begitu saja ketika seseorang sering berpindah tempat.
Ada juga persoalan yang lebih teknis. Semua penyimpanan flash punya jumlah siklus tulis terbatas, umumnya antara 10.000 hingga 100.000 kali untuk sebuah flashdisk. Kalau perangkat hanya dipakai untuk arsip, batas ini tidak terlalu mengganggu. Namun jika file disalin setiap hari atau setiap minggu, ruang penyimpanan yang bisa dipakai terus menyusut hingga akhirnya flashdisk tidak berfungsi sama sekali.
Berbeda dengan SSD biasa, flashdisk tidak bisa menjalankan perintah TRIM untuk memulihkan sebagian ruang yang sudah terpakai. Keterbatasan ini membuat penurunan performa dan kapasitas berjalan lebih cepat.
Apa Itu Bit Rot dan Kenapa Berbahaya
Ancaman lain yang tidak terlihat adalah bit rot. Flash memory menyimpan data dengan cara menahan muatan listrik di dalam sel-sel memori. Seiring waktu, sel tersebut kehilangan elektron, dan bit data bisa berubah posisi. Perubahan ini berujung pada korupsi data yang tidak bisa dibalik.
Partikel kosmik bahkan bisa membalik bit, meski peluangnya relatif kecil, sekitar satu per gigabyte per bulan di permukaan laut. Pada rentang waktu yang cukup panjang, peristiwa langka seperti ini menjadi keniscayaan.
Komponen lain seperti konektor dan chip pengontrol juga bisa gagal karena benturan, korosi, atau kualitas produksi yang buruk. Flashdisk yang disimpan di lingkungan sangat lembap bahkan berisiko terkontaminasi jamur.
Aturan 3-2-1 untuk Backup Data Penting
Kalau data benar-benar penting, aturan umum yang lazim dipakai adalah 3-2-1. Artinya, data disimpan di minimal tiga tempat: dua drive lokal dan satu unggahan ke cloud. Sebagian orang melangkah lebih jauh dengan menempatkan salah satu drive di alamat terpisah atau di dalam brankas tahan api.
Langkah ekstrem itu mungkin berlebihan untuk kebanyakan orang. Namun kebakaran, banjir, dan bencana lain memang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan.
Mengandalkan cloud sepenuhnya juga bukan pilihan bijak. Selain biaya langganan, koneksi internet bisa mati, dan pusat data bernilai miliaran dolar pun bisa mengalami kegagalan katastrofik. Risiko lain muncul jika perusahaan penyedia layanan berubah kebijakan atau bekerja sama dengan pemerintah otoriter yang mengancam keamanan data pengguna.
Cara Memindahkan File dari Flashdisk Lama
Untuk file yang tidak terlalu kritis tetapi masih ingin disimpan, pastikan salinannya berada di lokasi yang mudah dikenali dan diambil kembali. Drive internal komputer bisa jadi pilihan, meski cloud atau SSD eksternal tetap lebih aman.
Kalau komputer berhenti berfungsi, mengambil file dari drive internalnya bisa rumit. Pengguna harus membongkar perangkat secara fisik dan mencari cara menghubungkannya ke mesin lain.
Proses pemindahan sebaiknya dilakukan bertahap. Salin seluruh isi flashdisk ke drive lokal terlebih dahulu, verifikasi bahwa file bisa dibuka dengan baik, lalu unggah salinan kedua ke layanan cloud. Setelah dua salinan aman, flashdisk lama bisa dipensiunkan atau dipakai untuk keperluan yang tidak menyimpan data penting.
Bagi pengguna di Indonesia yang masih menyimpan dokumen kerja, foto keluarga, atau arsip pribadi di flashdisk berusia lebih dari lima tahun, langkah backup ini sebaiknya tidak ditunda. Kerusakan data pada media penyimpanan flash umumnya datang tanpa gejala awal yang bisa dideteksi lewat peringatan sistem.