BENGKULU — Satu dari lima anak balita di Indonesia masih tumbuh stunting, dengan prevalensi nasional 21,5 persen menurut Survei Kesehatan Indonesia terbaru. Angka itu ada di atas ambang batas WHO. Padahal Posyandu punya peran besar yang sering dilewatkan orang tua setelah jadwal imunisasi anak selesai.
Angka prevalensi stunting nasional 21,5 persen berarti jutaan balita di seluruh wilayah Indonesia masih gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Persoalan ini bukan cuma soal tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya.
Stunting berakar pada kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang kurang, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya berlanjut ke perkembangan kognitif anak, daya saing akademik, sampai risiko penyakit tidak menular saat dewasa.
Kenapa Stunting Masih Terjadi Meski Posyandu Ada di Setiap Desa
Pemerintah sudah menjalankan berbagai program intervensi spesifik dan sensitif untuk menekan angka stunting. Namun akar masalah di lapangan sering berpangkal pada satu hal mendasar: pemahaman masyarakat soal stunting masih rendah.
Banyak orang tua di desa maupun kota menganggap anak yang pendek semata-mata faktor keturunan. Padahal tinggi badan di bawah standar bisa jadi tanda masalah kesehatan kronis yang sebenarnya bisa dicegah.
Ketidaktahuan ini membuat asupan gizi seimbang untuk ibu hamil, ASI eksklusif enam bulan, dan MP-ASI kaya protein hewani sering terabaikan. Bantuan logistik gizi dari pemerintah pun berisiko tidak termanfaatkan maksimal karena ketidakpahaman di tingkat rumah tangga.
Sanitasi dan Infeksi Berulang yang Sering Dilupakan
Stigma sosial dan literasi sanitasi yang rendah memperparah situasi. Sebagian masyarakat belum menyadari bahwa infeksi berulang akibat air bersih yang kurang memadai dan kebiasaan buang air besar sembarangan bisa menyerap nutrisi tubuh anak.
Kondisi ini mempercepat terjadinya stunting. Selama hubungan antara pola makan, sanitasi, dan tumbuh kembang anak belum dipahami merata, upaya pencegahan akan jalan di tempat.
Posyandu Bukan Sekadar Tempat Imunisasi
Posyandu memegang peran strategis sebagai media penyuluhan di tingkat paling bawah. Fungsinya bukan hanya menimbang berat badan atau mengukur tinggi balita setiap bulan.
Melalui kader yang bersentuhan langsung dengan warga, edukasi soal gizi ibu hamil, tablet tambah darah untuk remaja putri dan ibu hamil, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis bahan pangan lokal, hingga praktik pengasuhan anak bisa disampaikan dengan cara yang mudah dipahami.
Posyandu juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Ketika kader menemukan grafik pertumbuhan balita yang melandai atau tidak naik di Kartu Menuju Sehat (KMS) atau aplikasi pemantauan kesehatan, intervensi cepat dan rujukan ke Puskesmas bisa segera dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi stunting kronis.
Mengapa Orang Tua Berhenti Datang ke Posyandu
Fungsi deteksi dini Posyandu belum selalu berjalan optimal. Hambatan terbesarnya adalah rendahnya kehadiran orang tua dan terbatasnya literasi kesehatan.
Banyak orang tua, terutama yang punya balita di atas dua tahun atau yang sudah menyelesaikan jadwal imunisasi dasar, enggan kembali ke Posyandu setiap bulan. Persepsi bahwa Posyandu hanya "tempat suntik imunisasi" membuat pemantauan tumbuh kembang anak pasca-imunisasi terputus.
Akibatnya, deteksi dini gangguan pertumbuhan jadi terlambat. Padahal semakin cepat masalah gizi anak terdeteksi, semakin besar peluang pemulihannya.
Yang Dibutuhkan Posyandu agar Berfungsi Maksimal
Posyandu butuh penguatan kapasitas kader lewat pelatihan berkala. Alat ukur antropometri yang terstandar juga wajib tersedia agar hasil pengukuran akurat.
Pendampingan berkelanjutan dari tenaga kesehatan profesional seperti bidan desa dan ahli gizi menjadi kunci. Tanpa dukungan ini, Posyandu sulit menjalankan perannya sebagai benteng pencegahan stunting secara penuh.
Kapan Ibu Perlu Lebih Waspada
Segera konsultasikan ke Puskesmas atau dokter anak jika berat badan balita tidak naik selama dua bulan berturut-turut, tinggi badan jauh di bawah standar usianya, atau anak sering sakit berulang.
Jangan tunggu sampai anak masuk sekolah. Deteksi dini di 1.000 Hari Pertama Kehidupan memberi hasil yang jauh lebih baik dibanding intervensi setelahnya.
Membawa anak ke Posyandu setiap bulan bukan sekadar rutinitas administratif. Ini cara paling murah dan mudah untuk memastikan tumbuh kembang anak terpantau, sekaligus mencegah stunting sebelum terlambat.