Sebanyak 142 pekebun dari Kabupaten Bengkulu Tengah mengikuti Pelatihan Teknis Budi Daya Kelapa Sawit yang digelar PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute) di Hotel Grage Bengkulu, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini menyoroti kesenjangan produktivitas sawit rakyat yang baru mencapai 14 ton per hektare per tahun, padahal potensinya bisa mencapai 35 ton.
BENGKULU — Pelatihan ini menjadi bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 yang menyasar persoalan mendasar: mengapa produktivitas kebun sawit rakyat di Bengkulu Tengah masih tertinggal jauh dari perusahaan besar.
Dari total luas perkebunan kelapa sawit di Bengkulu Tengah yang mencapai 56.245 hektare, sekitar 44.567 hektare dikelola oleh rakyat. Sisanya, 11.678 hektare, berada di bawah pengelolaan perusahaan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah menyebut angka produktivitas 14 ton per hektare per tahun masih jauh di bawah potensi yang seharusnya bisa diraih, yakni kisaran 30 hingga 35 ton per hektare per tahun.
Kesenjangan ini membuka ruang perbaikan yang luas. Mulai dari teknik budidaya, pemilihan sarana produksi, hingga pemeliharaan tanaman yang lebih disiplin.
Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebenarnya sudah berjalan di Bengkulu Tengah sejak 2018, namun pembinaan terhadap pekebun dinilai belum optimal sehingga pendampingan teknis terus diperlukan.
Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak berhenti pada pemberian sertifikat. Keberhasilan diukur dari sejauh mana peserta mampu menerapkan ilmu di kebun masing-masing.
"Kami tidak ingin peserta hanya datang, duduk, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Kami ingin peserta pulang membawa ilmu, pemahaman baru, dan rencana perbaikan untuk kebun masing-masing," ujarnya.
Materi pelatihan dirancang berdasarkan persoalan nyata di lapangan, mencakup pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit, hingga sanitasi kebun.
DGL juga memanfaatkan Learning Management System (LMS) agar proses belajar tidak berhenti setelah sesi tatap muka selesai. Peserta tetap bisa dipantau dan terus didampingi.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., MP, mengingatkan bahwa kelapa sawit adalah komoditas strategis yang menopang ekonomi masyarakat. Sektor ini menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.
Namun ia mengakui masih ada pekerjaan rumah yang belum tuntas, seperti kualitas benih, penerapan teknologi, pemupukan yang tidak tepat, hingga tata kelola panen dan pascapanen.
"Harapan saya, melalui pelatihan ini peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata di lapangan," katanya.
Ia meminta para peserta aktif bertanya dan berdiskusi dengan instruktur mengenai persoalan yang benar-benar terjadi di kebun mereka. Dengan begitu, pelatihan menjadi ruang mencari solusi, bukan sekadar seremonial.
PT Daya Guna Lestari atau DGL Learning Institute adalah lembaga pelatihan, asesmen, dan sertifikasi yang fokus pada sektor kelapa sawit. Lembaga ini telah menjadi mitra pelatihan BPDP selama empat tahun berturut-turut.
BPDP sendiri berperan menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana perkebunan untuk mendukung keberlanjutan serta daya saing komoditas nasional.
Para peserta pelatihan diharapkan menjadi penggerak di lingkungan masing-masing dengan membagikan pengetahuan kepada petani atau kelompok tani lain. Perbaikan cara pengelolaan kebun diharapkan berdampak pada efisiensi biaya, kualitas produksi, dan hasil panen yang lebih baik.