JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menunjukkan respons cepat dalam menangani dampak bencana di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Menteri PU Dody Hanggodo memastikan jajarannya turun langsung sejak fase awal bencana agar akses jalan, air bersih, dan fasilitas dasar masyarakat tidak lama terputus.
Saat meninjau langsung ke Kabupaten Nagekeo, NTT, Dody meminta pemerintah daerah segera melaporkan titik-titik kerusakan tanpa menunggu seluruh proses pendataan tuntas.
Ia menegaskan bahwa arahan Presiden menjadi acuan agar penanganan bencana tidak berlarut-larut.
“Kami hadir pada setiap bencana, karena arahan Pak Presiden sudah jelas bahwa kita tidak boleh berduka berlama-lama, secepatnya kita harus bangkit. Jadi saya mohon diberikan data lengkapnya, titik-titiknya. Sehingga kami bisa menurunkan tim segera, bisa berkoordinasi dengan kepala-kepala dinas, bisa langsung mengecek satu per satu dan langsung bekerja,” kata Dody.
Menurutnya, data awal yang cepat masuk membuat tim teknis dan alat berat bisa segera diberangkatkan ke titik-titik terdampak.
Kebutuhan akan respons cepat itu muncul setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT, pada pertengahan Agustus 2026.
Guncangan tersebut merusak ruas jalan, jaringan air minum, hingga sejumlah fasilitas publik di kawasan terdampak.
Kerja cepat tim di lapangan membuahkan hasil dalam waktu singkat.
Per 16 Agustus 2026, sembilan ruas jalan nasional yang sempat terputus akibat gempa sudah kembali berfungsi:
Sepanjang penanganan, tim mencatat 40 titik longsoran dan empat titik patahan badan jalan yang harus dibersihkan.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT mengerahkan tujuh unit ekskavator dan empat unit loader untuk mempercepat pekerjaan tersebut.
Meski jalur utama sudah terbuka, sejumlah titik masih membutuhkan penanganan ekstra.
Ruas Krica-Lidi di Desa Pulue misalnya, sepanjang 4,1 kilometer, tercatat memiliki sedikitnya 10 titik longsor.
Dua unit ekskavator dan satu kendaraan pikap diturunkan untuk menembus titik-titik tersebut.
Hingga 19 Agustus 2026, tim gabungan berhasil menembus salah satu titik longsor, sementara pembersihan di titik lain masih berjalan.
Selain jalan, pemulihan air bersih juga menjadi perhatian serius Kementerian PU.
Jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende sempat rusak akibat gempa.
Perbaikan dikerjakan pada 16 Agustus dan rampung keesokan malamnya, sehingga air kembali mengalir ke rumah-rumah warga.
Di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, sekitar 7.000 warga di delapan desa sempat kekurangan air bersih.
Empat unit tandon berkapasitas 1.200 liter dikirim untuk memenuhi kebutuhan darurat warga di sana.
Untuk solusi jangka panjang, pemerintah turut menyiapkan survei geolistrik guna mencari sumber air tanah baru.
Kementerian PU juga mempercepat pemeriksaan kondisi fasilitas publik pascagempa.
Jumlah personel yang diterjunkan ditambah dari tiga menjadi 14 orang agar pemeriksaan lebih cepat rampung.
Beberapa bangunan yang diperiksa meliputi:
Selain bangunan, jaringan irigasi di Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan turut rusak, dengan saluran tersier sepanjang 250 meter rusak dan patah di tiga titik, berdampak pada sekitar 175 hektare lahan.
Pola kerja cepat yang sama sebelumnya sudah dibuktikan Kementerian PU saat menangani bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.
Data Kementerian PU per 20 Agustus 2026 mencatat hasil sebagai berikut:
Kendati capaian di Sumatera terbilang tinggi, sejumlah pekerjaan masih menyisakan tantangan.
Dari 31 daerah irigasi kewenangan pusat yang terdampak, baru 13 yang tuntas ditangani.
Untuk irigasi kewenangan daerah, baru dua dari 65 lokasi yang selesai.
Di sisi bendung, empat dari 14 bendung nasional dan tiga dari 52 bendung daerah sudah rampung dikerjakan.
Selain merehabilitasi kerusakan, Kementerian PU juga menyiapkan langkah mitigasi agar bencana serupa tidak menimbulkan dampak yang sama besar.
Di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat, delapan sabo dam tahap pertama sudah mulai dibangun sejak Maret 2026, terdiri atas lima unit di Kabupaten Tanah Datar dan tiga unit di Kabupaten Agam.
Kapasitas tampung sedimen dari delapan sabo dam tersebut diperkirakan mencapai 440.000 meter kubik.
Ke depan, pemerintah berencana membangun total 56 sabo dam di 24 sungai secara bertahap sepanjang 2026-2029 untuk menahan material dari Gunung Marapi.
Baik di Sumatera maupun NTT, pola kerja Kementerian PU relatif sama: bergerak cepat begitu bencana terjadi, memulihkan akses dan layanan dasar, lalu melanjutkan rehabilitasi hingga tahap mitigasi.
Kecepatan pada hari-hari pertama dinilai penting karena akses yang terputus ikut menghambat distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak.
Pekerjaan pun tidak berhenti setelah jalan kembali bisa dilalui, karena pemulihan air bersih, hunian, irigasi, bendung, hingga infrastruktur mitigasi masih terus berjalan.
Menteri PU Dody Hanggodo meminta data kerusakan disampaikan sejak dini tanpa menunggu pendataan rampung, agar tim teknis dan alat berat bisa segera bergerak ke lokasi terdampak.
Per 16 Agustus 2026, sembilan ruas jalan nasional di NTT sudah kembali berfungsi, delapan di antaranya berada di jalur Trans Flores.
Per 20 Agustus 2026, seluruh 107 ruas jalan nasional dan 43 jembatan nasional di tiga provinsi tersebut sudah kembali berfungsi sepenuhnya.
Kementerian PU membangun sabo dam di Gunung Marapi, dengan rencana total 56 unit di 24 sungai sepanjang 2026-2029 untuk menahan material dan mengurangi risiko kerusakan.