“Seluruh tim telah dirumahkan; sebuah keputusan yang sepenuhnya di luar kendali kami,” tulis Emery dalam pernyataannya. Ia juga mendorong para perekrut atau siapa pun yang memiliki koneksi untuk langsung menghubungi sembilan nama pengembang yang ia cantumkan di unggahan tersebut.
Kabar ini menjadi pengingat pahit bahwa membuat game yang bagus secara kritis tidak menjamin keselamatan pekerjaan di tengah gempuran PHK massal yang terus melanda industri gim global. Tahun ini saja, lebih dari 10.000 pekerja gim telah kehilangan pekerjaan, menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber industri.
Luna Abyss menggabungkan genre bullet hell klasik—di mana pemain harus menghindari rentetan peluru musuh—dengan perspektif orang pertama (first-person shooter/FPS). Kombinasi ini sempat dipuji sebagai inovasi yang menyegarkan.
Wes Fenlon, senior editor PC Gamer, menulis bahwa game ini “membuatnya sudah berharap ada lebih banyak lagi game semacam ini.” Namun, antusiasme itu tidak tercermin di laporan penjualan. Menurut data SteamDB, game ini hanya memiliki 43 pemain bersamaan saat artikel ini ditulis, dengan puncak tertinggi hanya 317 pemain.
Genre bullet hell memang sudah lama menjadi ceruk pasar. Namun, Luna Abyss menguji batas itu dengan memadukannya ke dalam FPS, yang berarti pemain kehilangan visi periferal yang biasanya dimiliki game sejenis seperti Returnal. “Yang perlu dilakukan Luna Abyss untuk membuatnya terasa segar hanyalah menempatkannya dalam sudut pandang orang pertama,” tulis Fenlon.
Keputusan PHK ini terjadi hanya 26 hari setelah game dirilis. Rentang waktu yang sangat pendek itu membuat banyak pihak mempertanyakan apakah game tersebut sempat diberi kesempatan untuk menemukan pasarnya. Di industri yang rawan akan gejolak bisnis, angka pemain yang rendah seringkali menjadi alasan utama pemangkasan tim—bahkan untuk proyek yang secara kreatif dianggap berhasil.
Kisah Luna Abyss bukanlah kasus terisolasi. Sejumlah studio besar seperti Microsoft, Sony, dan Unity juga telah melakukan PHK massal dalam dua tahun terakhir meskipun pendapatan industri gim secara keseluruhan terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan kreatif dan finansial perusahaan tidak selalu melindungi tim pengembang di lini depan.
Bagi para pengembang yang kini menganggur, Emery menegaskan keyakinannya: “Saya tidak ragu bahwa tim kami akan terus membuat hal-hal luar biasa.” Namun, untuk saat ini, sembilan orang itu harus mencari pijakan baru di tengah industri yang kian tidak ramah pada bakat-bakat terbaiknya.