Karumkit RS Bhayangkara Polda Papua, Kombes Pol. dr. Rommy Sebastian, mengungkapkan temuan forensik: luka terbuka di kepala, dahi, pipi kiri, dan sekitar telinga kanan korban. Korban juga mengalami patah tulang rahang atas kanan dan kiri serta rahang bawah sisi kanan akibat benturan keras.
“Moncong senjata berada tegak lurus dan menempel pada permukaan kulit saat tembakan dilepaskan,” ujar Rommy. Lintasan peluru memicu patah tulang dasar tengkorak, terkonfirmasi melalui pemeriksaan radiologi. “Cedera tersebut menyebabkan korban meninggal dunia dengan sangat cepat atau sudden death,” imbuhnya.
Kasatgas Gakkum Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol. I.G.G. Era Adinata, menyebut penyidik menduga aksi penembakan dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Bakusip pimpinan M. Mbalingga. Kelompok ini merupakan faksi baru yang masih didalami kaitannya dengan kelompok Elkius Kobak di Yahukimo.
Polisi mengantongi foto seorang pria yang berdiri di atas bangkai pesawat yang terbakar. “Berdasarkan hasil identifikasi, orang tersebut dipastikan adalah M. Mbalingga,” kata Era. Baik M. Mbalingga maupun Elkius Kobak sempat mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan melalui media sosial. Motif penyerangan masih didalami, namun kelompok itu sebelumnya pernah mengancam aktivitas penerbangan di wilayah yang mereka klaim sebagai daerah operasi.
Jenazah Captain Goselin diterbangkan dari Timika menggunakan pesawat Boeing 737 dan tiba di Jayapura sekitar pukul 17.30 WIT, Jumat (3/7/2026). Setibanya di Jayapura, jenazah menjalani prosesi penghormatan terakhir sebelum dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan forensik. Autopsi tidak dilakukan karena penyebab kematian sudah dapat diketahui melalui pemeriksaan luar yang didukung radiologi.
Menanggapi isu di media sosial yang menuding PT AMA menjalankan aktivitas di luar misi kemanusiaan, Satgas Operasi Damai Cartenz membantah tuduhan tersebut. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan manajemen PT AMA dan pimpinan misi gereja di Papua.
“Berdasarkan keterangan yang kami peroleh, PT AMA telah melayani penerbangan misi kemanusiaan dan pelayanan keagamaan di Papua selama 67 tahun. Baru kali ini mereka mengalami peristiwa tragis seperti ini,” katanya. Satgas memastikan penyidikan akan terus dilakukan untuk mengungkap seluruh pelaku dan motif penyerangan.