BENGKULU — Penurunan penjualan kendaraan energi baru (NEV) di China pada Juni 2026 menjadi alarm bagi industri otomotif global. Sepanjang semester pertama tahun ini, total pengiriman EV di Negeri Tirai Bambu hanya mencapai 4,73 juta unit — ambles 13 persen dari capaian Januari-Juni 2025. Angka ini jauh dari ekspektasi di awal tahun yang optimistis.
Sikap wait and see menjadi biang kerok utama. Para pembeli potensial sengaja menahan diri karena yakin produsen akan kembali memangkas harga dalam waktu dekat. "Sentimen konsumen yang lemah merupakan pertanda buruk bagi pasar EV tahun ini. Mereka mengharapkan produsen untuk lebih memangkas harga," ujar Tian Maowei, Manajer Penjualan di Yiyou Auto Service Shanghai, dikutip dari SCMP.
Tekanan ini memaksa pabrikan saling perang diskon. Namun ironisnya, strategi itu belum cukup ampuh membalikkan grafik penjualan di tengah ketidakpastian ekonomi yang melanda kelas menengah China.
Perusahaan konsultan global AlixPartners mengeluarkan prediksi yang cukup brutal. Mereka memperkirakan penjualan kendaraan ringan di China secara keseluruhan akan merosot 10 persen. Lebih parah lagi, dari 30 produsen mobil listrik yang ada saat ini, hanya tujuh yang diperkirakan mampu balik modal pada tahun 2030.
Pemain kecil diprediksi akan tersingkir, diakuisisi, atau gulung tikar. Ini menandai fase konsolidasi paling ketat yang pernah terjadi di industri EV China. Salah satu penyebab utamanya: melemahnya dukungan insentif dari pemerintah pusat.
Untuk mengompensasi lesunya pasar domestik, produsen mobil China mempercepat ekspansi ke luar negeri. AlixPartners memproyeksikan ekspor mobil buatan China — yang mayoritas adalah EV — akan melonjak 41 persen menjadi 10 juta unit pada 2026. Strategi ini mencakup peluncuran model baru dan pembukaan showroom di berbagai negara.
Bagi Indonesia, kabar ini bisa berarti banjirnya pilihan mobil listrik dengan harga yang lebih kompetitif. Produsen China kemungkinan akan semakin agresif memasarkan produk mereka ke pasar ekspor, termasuk Indonesia, untuk mengejar volume penjualan yang hilang di dalam negeri. Konsumen punya posisi tawar lebih kuat dalam beberapa bulan ke depan.