BENGKULU — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas di kawasan Selat Hormuz mulai berdampak pada pasar komoditas global. Salah satu yang terancam adalah pasokan nikel, logam industri yang digunakan dalam berbagai sektor, dari baja tahan karat hingga baterai kendaraan listrik.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai konflik ini mengganggu rantai pasok sulfur yang menjadi bahan baku utama dalam proses pemasakan bijih nikel. Sebagian besar pasokan sulfur dunia memang berasal dari Timur Tengah.
Gangguan Pasokan Sulfur Dongkrak Biaya Produksi
Menurut Ibrahim, jika distribusi sulfur dari Timur Tengah terhambat, produsen nikel terpaksa mencari sumber alternatif dari negara lain. Konsekuensinya, biaya transportasi dan logistik melonjak, sehingga harga jual nikel di pasar internasional ikut terkerek naik.
"Kalau seandainya sulfur dari Timur Tengah ini terhambat maka harus mengambil dari negara lain yang transportasinya akan lebih mahal lagi dan biaya logistikpun mahal, dan ini yang membuat harga nikel mengalami kenaikan," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).
Kekhawatiran ini muncul di saat harga nikel sebelumnya justru tertekan dalam. Selama beberapa waktu terakhir, pasar dibanjiri pasokan berlebih atau oversupply. Penyebabnya, peralihan industri baterai kendaraan listrik yang kini lebih banyak mengadopsi teknologi berbasis lithium, sehingga permintaan terhadap nikel menurun drastis.
Sinyal Penguatan Mulai Terlihat
Namun, tren tersebut mulai berubah. Ibrahim mencatat, harga nikel mulai menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026. Ia menilai, sentimen positif ini muncul karena pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian pada risiko geopolitik.
"Tetapi kemarin nikel sudah mengalami kenaikan, dan kemungkinan besar di minggu-minggu depanpun masih akan mengalami kenaikan, karena adanya penurunan permasalahan di Timur Tengah yang kembali memanas antara Amerika dan Iran di Selat Hormuz," jelasnya.
Target Harga US$ 18.000 per Ton
Ibrahim memperkirakan, selama konflik di Timur Tengah belum mereda, tekanan terhadap rantai pasok sulfur akan terus berlanjut. Kondisi ini menjadi katalis yang dapat menopang kenaikan harga nikel dalam jangka pendek. Bahkan, ia optimistis harga nikel bisa menyentuh level US$ 18.000 per ton.
"Kenaikan ini sebenarnya sedang ditunggu oleh pasar, karena sebelum-sebelumnya kebijakan Pemerintah membuat harga nikel kembali terkoreksi. Nah, ada kemungkinan bahwa harga nikel akan menuju di US$ 18.000 kalau kondisi Timur Tengah masih memanas," pungkasnya.
Kenaikan harga nikel ini menjadi angin segar bagi produsen nikel tanah air, namun di sisi lain juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku bagi industri hilir yang menggunakannya. Pasar kini menanti perkembangan selanjutnya di Selat Hormuz sebagai penentu arah harga komoditas ini.