BENGKULU — Trump menginginkan perubahan dalam proposal perdamaian yang mencakup penguatan sejumlah poin penting, terutama yang berkaitan dengan material nuklir Iran. Laporan The New York Times dan Axios, yang dikutip AFP pada Minggu (31/5/2026), menyebutkan bahwa Presiden AS telah mengirimkan kembali kerangka kerja baru tersebut ke Teheran untuk dipertimbangkan. Belum jelas secara rinci perubahan apa yang dimaksud, namun situs Axios melaporkan Trump ingin memperketat persyaratan terkait pengelolaan bahan nuklir Iran.
Prioritas Trump: Pelucutan Nuklir dan Pembukaan Selat Hormuz
Trump menyebut dua prioritas utamanya dalam setiap kesepakatan dengan Iran. Pertama, jaminan bahwa Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir. Kedua, pembukaan kembali Selat Hormuz yang saat ini diblokade, jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Perubahan baru ini berpotensi memperpanjang proses negosiasi selama beberapa hari ke depan sebelum keputusan akhir tercapai.
Sumber pejabat AS menyatakan kepada AFP bahwa proposal tersebut sebenarnya sudah menunggu persetujuan Trump. Namun setelah pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih pada Jumat pekan lalu, Presiden AS belum juga mengambil keputusan. Ketidakpastian ini menambah kerumitan di tengah upaya mediasi yang sudah berlangsung alot.
Iran Peringatkan Syarat Tak Bisa Ditawar: Pencabutan Sanksi dan Pelepasan Aset
Di pihak Iran, Ghalibaf dalam siaran video di televisi pemerintah menolak mentah-mentah setiap kesepakatan yang tidak mengakomodasi kepentingan nasional. "Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegasnya. Ia menambahkan bahwa para negosiator Iran "tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya."
Bagi Teheran, pencabutan sanksi dan pelepasan aset Iran yang dibekukan di bank-bank luar negeri merupakan hak utama yang harus dijamin. Pandangan ini menjadi batu sandungan utama karena Trump justru memperketat persyaratan, bukan melonggarkannya. Sikap saling keras ini membuat jalan menuju perdamaian semakin sempit.
Kronologi Perang yang Melatarbelakangi Negosiasi
Perang di Timur Tengah ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, kawasan Timur Tengah dilanda konflik terbuka yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Pertukaran proposal antara Washington dan Teheran terus berlangsung, tetapi perubahan sepihak dari Trump justru memperumit upaya penghentian permusuhan.
Belum ada kepastian kapan kedua pihak akan mencapai kata sepakat. Dengan Trump yang terus memperkuat persyaratan dan Iran yang bersikukuh pada hak-haknya, negosiasi damai ini masih akan berlangsung alot dalam waktu dekat.