Bangunan SDN 20 Kepahiang Bengkulu Rusak Parah, Guru Patungan dan Gotong Royong Demi Kenyamanan 59 Murid

Penulis: Fajar  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 17:12:37 WIB
Enam ruang kelas SDN 20 Kepahiang, Bengkulu, mengalami kerusakan parah pada lantai, pintu, jendela, dan plafon.

KEPAHIANG — Enam ruang kelas di SD Negeri 20, Kelurahan Dusun Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, kini hanya bertahan dengan cat warna baru yang menutupi sementara tampilan usang bangunan. Di balik polesan itu, lantai retak, pintu dan jendela rusak, serta plafon di sejumlah ruangan bolong dan mengancam kenyamanan belajar.

Kepala SDN 20 Kepahiang, Desi Rusnita, mengakui bahwa jumlah ruang kelas sebenarnya masih mencukupi untuk menampung total 59 siswa—terdiri dari 33 laki-laki dan 26 perempuan. Namun, kata dia, sebagian besar fasilitas bangunan sudah mengalami kerusakan yang cukup parah dan membutuhkan perbaikan segera.

Guru Patungan Demi Operasional Sekolah

Tanpa menunggu anggaran perbaikan dari pemerintah daerah, para guru di SDN 20 mengambil inisiatif sendiri. Mereka mengumpulkan uang pribadi secara sukarela untuk membeli material ringan, seperti semen, cat, dan triplek, serta bergotong royong memperbaiki bagian-bagian yang masih bisa ditangani sendiri.

“Kami lakukan apa yang bisa dilakukan. Dana pribadi guru dikumpulkan, lalu kami perbaiki plafon yang bocor, ganti engsel pintu yang rusak, dan menambal lantai,” ujar Desi Rusnita.

Lokasi di Gang Sempit, Fasilitas Terbatas

Sekolah yang berada di dalam gang sempit ini memiliki enam ruang kelas aktif, satu ruang terbengkalai, satu ruang TIK sementara, satu perpustakaan, satu ruang UKS, serta satu ruang yang dirangkap sebagai kantor kepala sekolah dan ruang guru. Kondisi ini membuat aktivitas administrasi dan kesehatan murid berjalan seadanya.

Satu ruangan yang terbengkalai tidak bisa digunakan karena kondisinya sudah sangat rusak. Sementara itu, ruang perpustakaan pun belum bisa difungsikan secara maksimal karena kekurangan rak buku dan meja baca.

Jumlah Murid Baru Terus Menurun

Pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026), hanya tujuh anak yang tercatat sebagai murid baru—empat perempuan dan tiga laki-laki. Jumlah ini menurun drastis dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 11 orang. Menurut Desi, rendahnya angka partisipasi tidak lepas dari citra bangunan sekolah yang rusak di mata orangtua calon siswa.

“Orangtua pasti mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan anak. Melihat kondisi sekolah seperti ini, wajar jika mereka ragu,” ungkapnya.

Meski demikian, masih ada orangtua seperti Dedi Adene yang tetap menyekolahkan anaknya di SDN 20. Alasan utamanya adalah jarak tempuh yang dekat dari rumah, sehingga memudahkan antar-jemput dan pengawasan langsung.

Harapan Perbaikan dari Pemerintah Daerah

Desi berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Kepahiang segera turun tangan untuk merenovasi bangunan sekolah yang sudah berusia puluhan tahun. Ia menekankan bahwa tanpa intervensi pemerintah, kualitas pendidikan di SDN 20 terancam menurun lebih jauh karena murid terus berkurang dan guru harus menanggung biaya operasional sendiri.

“Kami tidak ingin anak-anak di sini kehilangan hak belajar yang layak. Tapi kami juga tidak bisa terus-terusan mengandalkan iuran guru,” tutup Desi.

Reporter: Fajar
Sumber: regional.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top