BENGKULU — Piala Dunia 2024 lalu menjadi berkah bagi penjualan televisi Samsung di Indonesia, setidaknya di kanal e-commerce. Data internal menunjukkan pertumbuhan penjualan tiga digit di platform Lazada selama turnamen berlangsung. Namun, yang menarik bukan sekadar angka penjualannya—yang detailnya masih dirahasiakan oleh kedua perusahaan—melainkan model kolaborasi operasional yang diterapkan.
Lazada tidak hanya bertindak sebagai etalase digital. Dalam kemitraan ini, Lazada turut mengelola operasional toko Samsung, mulai dari perencanaan penjualan, pengaturan promosi harian, hingga yang paling krusial: pengelolaan inventaris dan rantai pasok. Langkah ini memastikan produk tetap tersedia ketika lonjakan pembeli terjadi, terutama saat pertandingan-pertandingan krusial berlangsung.
“Inovasi produk saja tidak cukup; keberlanjutan bisnis membutuhkan ekosistem digital commerce yang tangguh,” ujar Selvia Gofar, Director of Online Business Samsung Indonesia. Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi penjualan tidak lagi berpusat pada produk semata, melainkan pada kemampuan infrastruktur digital untuk menjawab lonjakan permintaan secara real-time.
Meski klaim pertumbuhan tiga digit terdengar impresif, baik Samsung maupun Lazada belum merinci persentase pasti, jumlah unit yang terjual, nilai transaksi, atau periode pembanding yang digunakan. Artinya, data ini belum bisa dijadikan tolok ukur kondisi pasar televisi Indonesia secara keseluruhan. Bisa jadi pertumbuhan ini hanya terjadi di segmen produk tertentu atau akibat basis penjualan yang rendah sebelumnya.
Bagi konsumen yang berniat membeli TV menyambut ajang olahraga atau nonton bareng, momentum seperti ini memang menguntungkan karena biasanya diikuti promo cicilan 0% dan diskon. Namun, jangan tergoda oleh klaim kenaikan penjualan semata. Bandingkan harga akhir, spesifikasi panel layar (seperti refresh rate 120Hz untuk tayangan olahraga), serta biaya administrasi cicilan sebelum memutuskan membeli.
Data dari kemitraan ini mengonfirmasi satu hal: ajang olahraga besar masih menjadi pemicu utama penjualan perangkat hiburan rumah. Bagi Samsung, kolaborasi dengan Lazada menjadi blueprint bagaimana brand elektronik bisa memaksimalkan momen tersebut melalui ekosistem digital yang matang, bukan sekadar mengandalkan gimmick harga.
Namun, tanpa transparansi data penjualan, konsumen harus tetap waspada. Promo dan cicilan memang mendorong transaksi, tapi pastikan produk yang dibeli sesuai kebutuhan—bukan karena terbawa euforia “kenaikan tiga digit” yang belum tentu relevan dengan pilihan model TV yang Anda incar.