KOTA BENGKULU — Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno Bengkulu, Fajar Handoyo, menyebutkan bahwa sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air menjadi yang paling terdampak selama periode ini. "Sektor seperti pertanian yang bisa memitigasi bagaimana kalau air berkurang, kalau yang sumber daya air bagaimana untuk memasok atau mengatur air yang diperlukan karena debit air bakal berkurang dari normalnya," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Hujan Masih Turun, Tapi Tak Merata
Fajar menegaskan, musim kemarau bukan berarti hujan tidak akan turun sama sekali. Hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi, meski intensitasnya lebih rendah dari kondisi normal dan tidak merata di seluruh wilayah.
Berdasarkan pantauan BMKG, hujan ringan hingga sedang telah terjadi di Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Bengkulu Utara. Sementara itu, Kota Bengkulu yang berada di pesisir masih berpeluang diguyur hujan ringan karena karakteristik cuaca yang lebih dinamis.
Mengapa Puncak Kemarau Perlu Diantisipasi Sekarang?
Provinsi Bengkulu saat ini sudah memasuki musim kemarau yang dipengaruhi angin monsun Australia yang bertiup dari arah tenggara. Angin ini membawa massa udara kering yang membuat kelembapan udara menurun drastis.
Akibatnya, debit air di sejumlah sumber akan berkurang dari normal. Hal ini berpotensi mengganggu pasokan air bersih bagi rumah tangga dan mengancam produktivitas lahan pertanian tadah hujan.
Puncak Kemarau Tak Berakhir dengan Satu Dua Kali Hujan
Fajar mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami kondisi cuaca. "Kalau hujan yang turun selama satu atau dua hari tidak otomatis mengakhiri musim kemarau karena penetapan musim didasarkan pada kriteria klimatologis, termasuk akumulasi curah hujan dalam periode tertentu," jelasnya.
Ia menambahkan, mitigasi yang bisa dilakukan antara lain dengan pengelolaan ketersediaan air secara bijak dan penyesuaian jadwal tanam bagi petani. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera menyiapkan langkah-langkah darurat untuk daerah yang rawan kekeringan.