BENGKULU — Di tengah arus modernisasi, tradisi bercerita atau yang dikenal dengan istilah begabus di Kabupaten Kaur masih hidup di kalangan masyarakat. Salah satu kisah yang paling melekat adalah cerita tentang "Sang Senga'uk", sebuah nama yang tak asing lagi di telinga warga setempat.
Kisah ini biasanya dituturkan oleh para orang tua kepada anak cucu mereka. Sosok yang akrab disapa Tamang (kakek), Bini (nenek), Bak (ayah), hingga para panggilan kekerabatan lain seperti Uncu, Ceude, hingga Cik ini menjadi jembatan penghubung antara masa lampau dan kondisi yang dialami masyarakat kini.
Cerita Senga'uk memiliki posisi khusus dalam budaya tutur masyarakat Kaur. Penuturan kisah ini dilakukan bukan tanpa tujuan, melainkan sarat akan pesan yang ingin disampaikan kepada generasi penerus.
Lewat alur cerita dan karakter Senga'uk, para tetua menyisipkan nilai-nilai kehidupan. Kisah ini menjadi media pembelajaran yang efektif karena dikemas dalam bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian masyarakat setempat.
Keberadaan cerita rakyat semacam Senga'uk menjadi penanda kekayaan budaya lokal yang dimiliki Kabupaten Kaur. Di era digital ini, pelestarian cerita rakyat menjadi tantangan tersendiri karena generasi muda lebih akrab dengan gawai dibandingkan kisah-kisah tradisional.
Oleh karena itu, membuka kembali cerita ini ke ruang publik menjadi langkah penting. Upaya ini dinilai mampu menjadi pengingat bahwa tradisi lisan adalah bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kaur.
Harapannya, cerita Senga'uk tidak hanya berhenti sebagai kenangan masa kecil, tetapi bisa terus hidup dan diwariskan. Publik, termasuk generasi muda, diharapkan dapat mengakses kisah ini sebagai bahan bacaan, opini, maupun sekadar hiburan yang mendidik.