Karhutla Kalimantan Makin Sulit Dipadamkan, Studi Ungkap Perubahan Iklim Perbesar Risiko

Penulis: Yasir  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:14:31 WIB
Personel gabungan kembali dikerahkan untuk memadamkan karhutla di tiga provinsi Kalimantan.

BENGKULU — Ribuan personel dan armada udara kembali dikerahkan untuk menjinakkan karhutla di tiga provinsi Kalimantan. Namun, upaya ini kerap kewalahan karena faktor lingkungan sedang tidak berpihak pada upaya pemadaman.

Para ilmuwan menyebut masalahnya bukan sekadar suhu udara yang meningkat. Ada indikator bernama Fire Weather Index (FWI) yang mengukur seberapa besar kondisi atmosfer mendukung api untuk lahir dan meluas. Indeks ini memperhitungkan kelembapan vegetasi, kecepatan angin, dan curah hujan — faktor-faktor yang menentukan seberapa cepat api bergerak.

Angka di Balik Kebakaran Ekstrem

Penelitian yang dipimpin John T. Abatzoglou ini membandingkan tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem versus tahun normal. Hasilnya, pada tahun ekstrem, jumlah kebakaran besar meningkat sekitar empat kali lipat dan emisi karbon dari kebakaran melonjak hingga lima kali lipat.

Analisis global menunjukkan peningkatan median 73 persen untuk jumlah kebakaran dan 321 persen untuk kebakaran berukuran sangat besar. Emisi karbon dari kebakaran hutan dan deforestasi naik sekitar 405 persen.

Artinya, bukan cuma lebih banyak titik api yang muncul, tapi api yang lahir juga berpotensi menjadi jauh lebih besar. Di kawasan Amazon, salah satu wilayah dengan risiko tertinggi, kemungkinan munculnya fire weather ekstrem bisa meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kondisi praindustri.

Mengapa Api Lebih Cepat dari Manusia

Ketika atmosfer membuat vegetasi dan material organik kehilangan kelembapan, bahan bakar api menjadi melimpah dan kering. Api pun menyebar lebih cepat daripada kemampuan tim pemadam untuk menjangkaunya.

Di Kalimantan, kombinasi hutan tropis luas dan lahan gambut memperparah situasi. Saat gambut mengering, api bisa bertahan di bawah permukaan dan sulit terdeteksi, membuat pemadaman semakin rumit.

Faktor Manusia Tetap Kunci

Penelitian ini menegaskan bahwa hubungan iklim dan kebakaran tidak sederhana. Deforestasi dan pembukaan lahan menggunakan api di Asia Tenggara dan Amazon memainkan peran penting — perubahan iklim tidak bisa disebut sebagai satu-satunya penyebab karhutla.

Namun, perubahan iklim mengubah kondisi lingkungan sehingga kebakaran yang dipicu faktor lain menjadi lebih mudah berkembang. Studi ini tidak bisa dipakai untuk menyatakan setiap karhutla di Kalimantan disebabkan perubahan iklim, tetapi memberi gambaran mekanisme yang lebih luas: ketika cuaca kebakaran makin ekstrem, beban kerja pemadaman makin berat.

Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan bahwa pengendalian karhutla ke depan tidak cukup hanya mengandalkan personel dan armada udara. Mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi jangka panjang.

Reporter: Yasir
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top