BENGKULU — Anak yang dijauhi teman biasanya tidak langsung bercerita. Yang terlihat justru perubahan perilaku di rumah, entah ia jadi lebih pendiam atau enggan berangkat sekolah. Orang tua sering baru sadar setelah masalahnya berlarut.
Karena itu, kepekaan Bunda terhadap kebiasaan anak sehari-hari jadi kunci. Berikut ciri-ciri yang perlu diperhatikan.
Anak yang aktif bercerita tiba-tiba malas mengobrol bisa jadi sedang menahan sesuatu. Ia mungkin merasa tidak nyaman dengan situasi pertemanannya di sekolah. Perubahan ini biasanya muncul bersamaan dengan hilangnya cerita-cerita seru tentang teman.
Alasan klasik seperti sakit perut atau pusing sering dipakai anak untuk menghindari sekolah. Kalau muncul berulang di pagi hari, Bunda perlu curiga ada masalah di lingkungan pertemanannya. Anak yang dijauhi merasa sekolah jadi tempat yang tidak menyenangkan.
Perhatikan kebiasaan anak bercerita sepulang sekolah. Kalau nama teman yang biasanya sering muncul kini hilang, itu bisa jadi sinyal. Anak yang dijauhi cenderung menghindari topik tentang kelompok pertemanannya.
Anak yang biasanya mengajak bermain atau bercanda kini lebih memilih menyendiri di kamar. Ia juga enggan membahas kegiatan di sekolah saat ditanya. Sikap ini bisa muncul karena ia merasa tidak punya tempat bercerita.
Anak yang tertekan karena dijauhi teman bisa melampiaskan kekesalannya di rumah. Hal-hal kecil yang biasanya tidak masalah bisa memicu tangis atau marah. Ini cara anak melepas beban yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Kalau beberapa ciri di atas muncul bersamaan dan berlangsung lebih dari beberapa hari, jangan tunggu lama. Ajak anak bicara dengan tenang tanpa interogasi, lalu dengarkan tanpa menghakimi. Bila perlu, komunikasikan dengan wali kelas untuk tahu situasi di sekolah.
Yang terpenting, anak perlu tahu bahwa rumah adalah tempat aman untuk bercerita. Dukungan Bunda di momen seperti ini akan sangat berarti bagi anak.