BENGKULU — Hampir 20 persen anak usia 3-17 tahun mengalami gangguan mental, emosional, atau perilaku menurut National Institutes of Health. Kenali 10 tanda anak sedang bermasalah secara emosional dan kapan ibu perlu mencari bantuan profesional.
Perubahan suasana hati, rasa cemas, atau kesulitan bergaul bisa jadi bagian normal dari tumbuh kembang anak. Namun ketika perubahan itu berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas harian, ibu perlu lebih jeli membaca sinyalnya.
Psikolog Kristen Eastman, PsyD, dari Cleveland Clinic membagikan sejumlah tanda yang bisa jadi petunjuk anak sedang bergulat dengan tekanan emosional. Ibu juga disarankan mempercayai naluri sendiri ketika merasa ada yang tidak biasa pada anak.
Jika perubahan perilaku anak terlihat bukan hanya di rumah, tapi juga di sekolah dan tempat kegiatan lain, itu bisa jadi tanda ada sesuatu yang lebih dalam. Pola yang konsisten di banyak lingkungan biasanya bukan sekadar reaksi sesaat.
Perubahan besar pada pola tidur, kebersihan diri, atau nafsu makan patut dicermati. Meski begitu, perubahan ini juga bisa berkaitan dengan usia atau masa pubertas, jadi ibu perlu mencari tahu penyebab sebenarnya sebelum menyimpulkan.
Hari-hari ketika anak kurang percaya diri adalah hal wajar. Tapi kalau perasaan itu makin sering muncul atau terasa lebih berat dari sebelumnya, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih serius.
Perilaku berulang tertentu bisa muncul saat anak mengalami kecemasan atau tekanan. Ibu perlu memperhatikan apakah kebiasaan tersebut berkaitan erat dengan kondisi emosional anak.
Gugup menghadapi ujian atau kegiatan baru itu normal. Tapi jika kekhawatiran makin sering, terasa berat, membuat anak tidak nyaman secara fisik, atau menghambat aktivitasnya, anak mungkin butuh dukungan lebih lanjut.
Anak kadang butuh waktu sendiri, dan itu tidak selalu jadi masalah. Namun jika ia mulai sering menghindari keluarga dan teman, atau kehilangan minat pada kegiatan yang dulu disukainya, ibu sebaiknya mencari tahu penyebabnya.
Perubahan perilaku untuk mendapatkan perhatian secara berlebihan bisa jadi cara anak menunjukkan tekanan atau kebutuhan yang belum terpenuhi. Memahami penyebab di baliknya membantu ibu memberi dukungan yang tepat.
Jangan abaikan ketika anak mengucapkan perkataan yang menunjukkan tekanan emosional berat. Pernyataan seperti itu perlu ditanggapi serius dan menjadi alasan untuk mencari bantuan profesional.
Perilaku membangkang bisa jadi bagian dari perkembangan anak. Tapi jika anak terus-menerus mudah marah hingga menimbulkan konflik, perkelahian, perundungan, atau ancaman kepada orang lain, kondisi ini perlu perhatian khusus.
Jika anak menunjukkan perilaku yang dapat membahayakan dirinya sendiri, itu adalah tanda jelas bahwa ia membutuhkan bantuan profesional. Jangan tunda untuk mencari dukungan.
Keinginan untuk langsung menyelesaikan masalah saat melihat anak kesulitan itu wajar. Namun menurut Dr. Eastman, langkah awal yang paling penting adalah membuat anak merasa didengar dan dipahami.
Ibu bisa menunjukkan validasi dengan mengatakan bahwa ia melihat anak sedang mengalami masa sulit. Sikap ini membuat anak merasa didukung dan lebih terbuka untuk bercerita tentang masalah yang dihadapinya.
Mencari bantuan profesional juga tidak selalu berarti anak butuh pengobatan atau perawatan intensif. Dokter anak dapat membantu ibu membedakan perubahan yang masih dalam batas normal dengan yang perlu penanganan lebih lanjut.
Segera konsultasikan ke dokter anak atau psikolog jika anak menunjukkan perilaku yang membahayakan diri, menyampaikan pernyataan tentang menyakiti diri sendiri, atau mengalami perubahan drastis yang berlangsung lebih dari beberapa minggu.
Jangan ragu juga untuk mencari bantuan jika ibu merasa cemas berlebihan tapi tidak yakin harus berbuat apa. Dokter anak bisa menjadi titik awal yang tepat untuk mendapatkan arahan.
Mengenali tanda-tanda ini bukan berarti ibu menjadi paranoid. Justru sebaliknya, kepekaan ibu adalah kunci agar anak mendapat dukungan tepat waktu, sebelum masalah emosional berkembang lebih berat.