BENGKULU — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyampaikan permohonan maaf dan mengubah pola operasional penyeberangan Ketapang–Gilimanuk setelah antrean kendaraan di Banyuwangi mengular hingga 8,5 kilometer. Perusahaan menurunkan 27 kapal dengan skema hingga 8 trip perjalanan untuk mempercepat penguraian antrean, tanpa mengorbankan standar keselamatan pelayaran.
Banyuwangi – Direktur PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Heru Widodo menyatakan pemantauan situasi di lapangan dilakukan berkala sebagai panduan menentukan strategi operasional. Pengaturan kapasitas kapal, skema pemuatan, hingga alur perjalanan dibuat dinamis mengikuti panjang antrean di kedua kantong pelabuhan.
Langkah cepat diambil setelah antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk menumpuk. Ketika situasi di salah satu pelabuhan mulai terurai, kapasitas penyeberangan difokuskan untuk menyerap tumpukan kendaraan di area yang masih padat.
Data operasional hingga Selasa (29/9) pukul 06.00 WIB mencatat ekor antrean di area Pelabuhan Ketapang mengular hingga 8,5 kilometer sampai kawasan Pantai Sangkong, Parasputih. Mayoritas kendaraan yang tertahan merupakan armada logistik, dengan estimasi durasi tunggu sekitar 34 menit.
Kondisi berbeda terpantau di Pelabuhan Gilimanuk. Lalu lintas di sisi Bali tersebut lancar tanpa antrean, sehingga penumpukan terpusat di sisi Banyuwangi.
Untuk mempercepat alur penyeberangan, ASDP menerjunkan 27 kapal dengan skema intensif hingga 8 trip perjalanan di lintas Ketapang–Gilimanuk. Armada tersebut tersebar di dua dermaga.
Empat kapal perbantuan Tanjung Balai turut memperkuat layanan, terdiri atas satu kapal di Dermaga MB dan tiga kapal di Dermaga LCM.
Antrean panjang di lintas Ketapang–Gilimanuk berdampak langsung pada perjalanan masyarakat maupun distribusi logistik. Jalur ini menjadi penghubung utama Pulau Jawa dan Bali, sehingga tumpukan armada logistik berpotensi mengganggu pasokan barang ke wilayah timur Jawa dan Bali.
Heru menegaskan fokus perusahaan saat ini adalah mempercepat penguraian antrean secara terukur, dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas yang tersedia tanpa mengurangi aspek keselamatan.
"Kami memahami antrean dan waktu tunggu yang terjadi berdampak langsung terhadap perjalanan masyarakat maupun distribusi logistik, dan fokus kami saat ini adalah mempercepat penguraian antrean secara terukur, dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas yang tersedia tanpa mengurangi aspek keselamatan," kata Heru Widodo dikutip dari Antara, Selasa (29/9/2026).
Seluruh langkah penyesuaian operasional terus dievaluasi agar pemulihan berlangsung semakin efektif hingga kondisi kembali stabil. ASDP belum menyebut target waktu pasti kapan antrean di Ketapang sepenuhnya terurai.
Sebagai operator penyeberangan utama di lintas tersibuk Indonesia, kecepatan pemulihan layanan ASDP menjadi penentu kelancaran arus barang dan penumpang antara Jawa dan Bali, terutama pada periode lonjakan kendaraan seperti arus balik dan libur panjang.