BENGKULU — Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat 372 suspek campak sepanjang Januari–September 2026, dengan 73 kasus dinyatakan positif lewat pemeriksaan laboratorium. Untuk memutus rantai penularan, imunisasi Outbreak Response Immunization (ORI) digencarkan di sekolah dan pemukiman, termasuk Kotagede dan Wirobrajan. Berikut panduan lengkapnya untuk ibu.
Pelaksanaan ORI menyasar wilayah yang ditemukan adanya penularan, bukan berdasarkan cakupan imunisasi rutin semata. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, menjelaskan bahwa imunisasi ini diberikan tanpa melihat riwayat imunisasi sebelumnya.
"ORI itu Outbreak Response Immunization, jadi imunisasi yang dilakukan untuk merespons adanya outbreak atau peningkatan kasus," kata dr. Endang, Selasa (29/9/2026).
ORI adalah pemberian imunisasi sebagai respons terhadap peningkatan kasus atau penularan penyakit di suatu wilayah. Di Kota Yogyakarta, pelaksanaan ORI telah dilakukan di salah satu taman kanak-kanak di Kotagede yang diketahui terdapat kasus campak.
Wilayah Wirobrajan juga menjadi lokasi respons penularan, dengan imunisasi yang sudah dilakukan sebanyak dua kali sepanjang tahun ini. Pemberian imunisasi dalam kegiatan ORI tetap dilakukan selama seseorang memenuhi sasaran di wilayah yang sedang dilakukan respons penularan.
Selain ORI, imunisasi campak rutin tetap menjadi bagian penting dalam perlindungan anak. Imunisasi campak diberikan pada usia sembilan bulan dan 18 bulan sesuai program imunisasi nasional.
dr. Endang menyebut cakupan imunisasi di tingkat Kota Yogyakarta telah mencapai 96,64 persen. Namun, jika dilihat hingga tingkat kelurahan, masih terdapat wilayah dengan cakupan di bawah 95 persen.
"Kalau tingkat kota 96,64 persen, tetapi ketika di-breakdown ada beberapa kelurahan yang kurang dari 95 persen. Jadi harus merata," ujarnya.
Campak disebabkan oleh virus dan menular melalui percikan droplet maupun kontak dengan penderita. Penderita umumnya mengalami demam dan ruam atau bintik-bintik merah yang dapat disertai batuk, pilek, serta mata merah.
Ketua Tim Kerja Surveilans, Pengelola Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Sholikhin Dwi Ramtana, menuturkan bahwa hingga periode Januari–September tercatat 372 suspek campak. Dari jumlah tersebut, 73 kasus dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan laboratorium.
Meski demikian, tren suspek maupun kasus positif campak menunjukkan penurunan pada periode yang sama.
Penderita dianjurkan dipisahkan sementara dari orang yang sehat. Bagi penderita yang masih bersekolah, disarankan tidak mengikuti pembelajaran setidaknya hingga empat hari setelah munculnya ruam.
"Untuk mencegah penularan, penderita dianjurkan dipisahkan sementara dari orang yang sehat. Bagi penderita yang masih bersekolah, disarankan tidak mengikuti pembelajaran setidaknya hingga empat hari setelah munculnya ruam," kata Sholikhin.
Penggunaan masker tetap dianjurkan, terutama ketika mengalami gejala atau berada di lingkungan dengan penderita campak. Masyarakat juga diminta membiasakan mencuci tangan sebelum makan maupun setelah berinteraksi dengan lingkungan yang berisiko.
Dinkes melakukan penelusuran sumber penularan dan kontak erat yang berinteraksi dengan penderita. Rentang waktu yang ditelusuri adalah empat hari sebelum hingga empat hari setelah munculnya ruam.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu memutus rantai penularan di lingkungan sekitar penderita.
Campak tidak hanya menyerang anak-anak. Dalam sejumlah kasus yang ditemukan tahun ini, campak juga dialami orang dewasa dan bahkan dapat menimbulkan kondisi berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Segera bawa anak atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika muncul demam disertai ruam merah, terutama bila disertai batuk, pilek, atau mata merah. Jangan menganggap campak sebagai penyakit ringan yang bisa diabaikan.
"Imunisasi efektif untuk menumbuhkan kekebalan individu sehingga jika terjadi paparan tidak terjadi perburukan penyakit. Imunisasi juga membentuk kekebalan kolektif, sehingga ketika terjadi penularan, penyebarannya dapat berhenti," ujar Sholikhin.
Memastikan anak mendapat imunisasi campak sesuai jadwal, mengenali gejala sejak dini, dan menjaga kebersihan tangan adalah langkah sederhana yang berdampak besar. Cakupan imunisasi yang merata di setiap kelurahan menjadi kunci agar penularan campak benar-benar berhenti.