BENGKULU — Wuling memastikan mobil listrik yang diproduksi di Indonesia masih menggunakan baterai lithium-ion, bukan baterai berbasis nikel meski Indonesia produsen nikel terbesar dunia. Keputusan itu disampaikan Deputy Secretary of SGMW Overseas Business Department CPC Committee & Compliance Officer Liu Yan dalam pertemuan dengan media ASEAN di China, September 2026. Wuling Aira ev yang dirakit lokal tercatat memakai baterai LFP 16,2 kWh dan 25,1 kWh.
Pertemuan media ASEAN dengan jajaran SGMW di China menjadi forum ketika pertanyaan soal rantai pasok baterai akhirnya diajukan langsung ke pihak Wuling. Liu Yan menegaskan pilihan teknologi baterai tidak ditentukan semata oleh ketersediaan bahan baku di suatu negara. Pernyataan itu menjawab anggapan bahwa kekayaan nikel Indonesia seharusnya otomatis mendorong produsen memakai baterai berbasis nikel.
Saat ditanya soal teknologi baterai yang dipakai, Liu Yan menyebut lithium-ion masih menjadi pilihan saat ini. Ia merujuk pada beragamnya opsi teknologi baterai yang tersedia di China sebagai pasar utama SGMW.
"Untuk saat ini kami masih menggunakan lithium-ion. Di China sendiri ada beberapa pilihan teknologi baterai," ujar Liu Yan.
Menurut dia, teknologi berbasis nikel maupun lithium punya karakter masing-masing. Wuling juga tidak menutup kemungkinan memakai teknologi baterai lain pada masa mendatang, sehingga lithium-ion berstatus pilihan saat ini, bukan penolakan permanen terhadap baterai berbasis nikel.
Istilah lithium-ion merujuk pada keluarga teknologi baterai, bukan satu jenis tunggal. Sebagian kendaraan listrik memakai lithium iron phosphate (LFP), sementara baterai dengan kimia nickel-manganese-cobalt (NMC) menjadikan nikel sebagai salah satu material katodanya.
Karena itu, pertanyaan "lithium versus nikel" tidak tepat menggambarkan pilihan yang sesungguhnya. Keduanya bisa berada dalam satu keluarga besar teknologi baterai yang sama.
Pada Wuling Aira ev yang diproduksi di Indonesia, spesifikasi mencantumkan baterai LFP berkapasitas 16,2 kWh dan 25,1 kWh untuk dua pilihan. Kimia LFP tidak membutuhkan nikel sebagai material utama katoda.
Data U.S. Geological Survey memperkirakan produksi tambang nikel Indonesia mencapai 2,6 juta ton pada 2025. Angka itu jauh di atas negara produsen lain dan setara sekitar dua pertiga produksi nikel dunia yang berada di kisaran 3,9 juta ton.
Nikel memang salah satu material yang dipakai pada sejumlah teknologi baterai rechargeable, termasuk baterai kendaraan listrik. Namun besarnya produksi tidak otomatis membuat semua produsen EV di Indonesia memakai baterai berbasis nikel.
Wuling sendiri sudah memiliki pabrik kendaraan di Indonesia sejak 2017 dan memproduksi kendaraan listrik secara lokal. Keberadaan fasilitas perakitan itu tidak berarti seluruh rantai pasok baterai harus berbasis bahan baku dalam negeri.
Liu Yan tidak menyebut harga nikel, pasokan bahan baku, investasi baterai, maupun kebijakan pemerintah sebagai alasan Wuling tetap memakai lithium-ion. Yang disampaikan hanya bahwa setiap teknologi baterai punya pilihan dan karakter masing-masing.
Produksi kendaraan dan produksi sel baterai merupakan bagian berbeda dalam rantai industri. Sebuah mobil bisa dirakit lokal dengan teknologi baterai yang dipilih berdasarkan kebutuhan produk dan keputusan teknologi produsennya.
Pilihan baterai kembali kepada desain, karakter kendaraan, target produk, teknologi yang dikuasai produsen, serta keputusan rantai pasok masing-masing. Faktor-faktor itu berjalan terpisah dari ketersediaan nikel di negara tempat mobil dirakit.
Jawaban Wuling menyisakan ruang untuk perkembangan berikutnya. Liu Yan menyatakan pilihan teknologi lain tetap dapat dipertimbangkan seiring perkembangan industri baterai yang bergerak cepat.
Keputusan yang dipakai pada produk saat ini belum tentu berlaku untuk seluruh model Wuling di masa depan. Pertanyaan soal kapan Wuling memakai baterai berbasis nikel untuk produk Indonesia masih terbuka.
Di titik itu, arah industri baterai Indonesia layak terus diikuti. Negara ini memegang bahan bakunya dalam jumlah besar, sementara produsen masih menimbang teknologi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan produk mereka.