BENGKULU — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menutup Bencoolen Fest 2026 pada Minggu (11/10/2026) dengan catatan transaksi Rp1,29 miliar. Angka itu dihimpun dari belanja sekitar 20 ribu pengunjung yang mendatangi lokasi kegiatan sepanjang festival.
Bank Indonesia menyediakan voucher belanja untuk mendorong perputaran uang di area festival. Wahyu menilai Bengkulu punya modal budaya dan kreativitas lokal yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi, bukan sekadar tontonan tahunan.
Peragaan busana menampilkan batik khas Bengkulu sebagai salah satu rangkaian acara. Menurut Wahyu, batik besurek adalah identitas daerah yang berpeluang semakin dikenal lewat kegiatan promosi semacam ini.
"Kekayaan tersebut tidak hanya terbatas pada batik, tetapi juga mencakup berbagai karya seni dan kreativitas masyarakat lokal," ujar Wahyu saat penutupan Bencoolen Fest 2026.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, melalui Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Hendra Gunawan, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan festival. Hendra menilai Bencoolen Fest menjadi bentuk dukungan agar produk lokal semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selama festival, sekitar 20 ribu orang mengunjungi lokasi kegiatan. Ramainya pengunjung membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan produk, memperkenalkan kualitas barang, dan menjaring pembeli baru.
Aktivitas jual beli itu menghasilkan transaksi Rp1,29 miliar. Bagi UMKM, momentum ini menjadi kesempatan memperluas jangkauan pemasaran dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Bencoolen Fest 2026 menggabungkan kegiatan ekonomi dengan aksi sosial melalui program wakaf produktif. Salah satu kegiatannya berupa penjualan kopi seharga Rp10.000 per gelas.
Hasil penjualan kopi itu diperuntukkan bagi dukungan kegiatan pesantren melalui mekanisme wakaf produktif. Wahyu menegaskan dana tersebut bukan merupakan penerimaan Bank Indonesia.
"Dana tersebut disalurkan melalui program wakaf produktif untuk mendukung kegiatan pesantren," jelasnya.
Program ini sekaligus memperkenalkan pemahaman bahwa wakaf tidak hanya berbentuk tanah atau bangunan. Wakaf juga dapat berupa uang yang dikelola secara produktif agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Wahyu berharap Bencoolen Fest terus berkembang sebagai agenda yang mengangkat identitas budaya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bengkulu diharapkan memperkuat kapasitas UMKM, membuka akses pasar yang lebih luas, serta mendorong lahirnya peluang usaha baru.
Ke depan, Bencoolen Fest diharapkan tidak berhenti sebagai ajang promosi tahunan. Festival ini juga diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi kreatif, melestarikan budaya lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu.