BENGKULU — Linkerbot, produsen tangan robotik asal China yang didirikan Alex Zhou pada 2023, menembus valuasi USD 3 miliar atau setara Rp 54 triliun dalam putaran pendanaan April lalu menurut Forbes. Perusahaan yang berbasis di China ini mengirimkan lebih dari 10.000 tangan robotik sepanjang 2025 dan kini mengejar putaran baru dengan target valuasi USD 6 miliar. Teknologi tangan robotik Linkerbot dipakai pabrik hingga universitas, dari Samsung Electronics sampai Stanford.
Pendiri Linkerbot, Alex Zhou, membangun perusahaan ini dari ketertarikannya pada Doraemon semasa kecil. Kucing robot dengan kantong ajaib itu membuatnya yakin bahwa sumber kemampuan manusia bukan kantong ajaib, melainkan keserbagunaan tangan.
Keyakinan itu membawa Zhou fokus pada satu komponen yang selama ini dianggap momok di dunia robotika: tangan. Bukan robot humanoid utuh.
Gerakan tangan sehari-hari menuntut koordinasi jari yang rumit, sesuatu yang masih sulit ditiru robot tercanggih. "Tangan adalah tantangan hardware besar terakhir dalam robotika," kata Zhou, seperti dikutip.
Manusia memanipulasi benda hampir secara naluriah, mengandalkan indera peraba dan kontrol otot presisi. Robot harus meniru itu lewat motor mini, sendi mekanis, sensor, dan software.
Tangan manusia punya sekitar 27 derajat kebebasan, yakni cara persendian bergerak mandiri. Model canggih Linkerbot menawarkan lebih dari 20 derajat kebebasan, cukup untuk memanipulasi sekrup kecil, memakai perkakas, hingga memainkan alat musik.
Saat ini tangan robotik Linkerbot dipakai pabrik-pabrik China untuk menggenggam benda dan merakit komponen. Zhou ingin teknologinya melangkah lebih jauh: robot yang bisa memasak, membersihkan rumah, dan menangani benda rapuh.
Visi itu mengarah pada robot humanoid asisten rumah tangga yang serbaguna. Linkerbot memproduksi beberapa model dengan harga 6.666 yuan hingga 99.999 yuan, dari versi entry level yang bisa menggenggam ponsel sampai model presisi untuk komponen kecil.
Sebagai pembanding, tangan robotik canggih buatan pesaing luar negeri bisa dibanderol lebih dari USD 100.000. "Linkerbot memiliki salah satu tangan robotik termurah dan terbaik yang dapat Anda beli saat ini," kata Dermot McGrath, pendiri konsultan robotika ZenGen Labs.
Putaran pendanaan April memberi Linkerbot valuasi USD 3 miliar atau sekitar Rp 54 triliun. Forbes memperkirakan kekayaan Zhou mencapai USD 920 juta dari 31% saham yang dipegangnya.
Perusahaan sedang mengejar putaran pendanaan lain dengan target valuasi USD 6 miliar. Jika tercapai, Zhou berpeluang masuk jajaran miliarder.
Zhou menempuh studi interdisipliner AI dan robotika di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong sejak usia 14 tahun. Setelah lulus, ia dua tahun mengembangkan software ponsel di Lenovo, lalu mendirikan dua startup dan menjual sahamnya untuk mendanai Linkerbot di tahun pertama.
Sepanjang 2025, Linkerbot mengirimkan lebih dari 10.000 tangan robotik dan menjadi produsen terbesar kedua di China, di belakang Inspire Robots. Pelanggannya mencakup Universitas Stanford, Universitas Tsinghua, Samsung Electronics, dan Siemens.
Setelah membuka lini produksi baru di Beijing, perusahaan mengoperasikan empat pabrik di China. Targetnya, kapasitas produksi tahunan naik hingga 100.000 tangan robotik.
Zhou menilai rantai pasokan manufaktur China memberi keunggulan biaya. Linkerbot memproduksi hampir seluruh komponennya sendiri, sehingga bisa menekan harga dan mempercepat penyempurnaan produk.