BENGKULU — Infeksi flu selama kehamilan bukan sekadar batuk pilek biasa yang bisa diabaikan. Studi terbaru menunjukkan plasenta ikut "bekerja ekstra" melawan virus, dan kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan janin. Simak penjelasan lengkapnya untuk ibu hamil.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science Advances mengungkap bahwa infeksi influenza selama kehamilan memicu plasenta melakukan pertahanan antivirus secara penuh. Respons ini muncul baik pada ibu yang hampir tidak tampak sakit maupun yang mengalami gejala berat.
Temuan tersebut memberi gambaran baru tentang bagaimana tubuh ibu hamil menghadapi flu, dan mengapa perlindungan sejak awal begitu penting.
Plasenta punya tugas utama menyalurkan nutrisi dan oksigen untuk janin. Ketika fokusnya beralih untuk melawan virus, ada sumber daya yang tersedot dari fungsi utamanya.
"Saat plasenta melawan virus, ia mengalihkan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan sel plasenta," kata penulis studi dari University of Washington School of Medicine, Dr. Kristina Adams Waldorf, dilansir laman Newsroom.
Studi pada subjek monyet ini menemukan respons yang konsisten, bahkan ketika ibu hanya menunjukkan gejala ringan.
Influenza selama kehamilan telah lama dikaitkan dengan penyakit ibu yang parah, kelahiran prematur, dan kematian janin. Temuan baru ini menunjukkan tekanan pada plasenta dapat membahayakan kesehatan janin.
"Infeksi influenza dapat mengalihkan upaya plasenta dari tugas utamanya yaitu merawat janin," ungkap Waldorf.
Ia menambahkan, "Studi kami menunjukkan bahwa kesehatan janin mungkin lebih berisiko akibat infeksi flu ibu daripada yang kita sadari sebelumnya."
Profesor ilmu hewan di University of Illinois Urbana-Champaign, Adrienne Antonson, meneliti dampak infeksi flu berat pada perkembangan saraf prenatal. Penelitian menggunakan subjek tikus agar otak janin bisa diperiksa pada titik waktu berbeda setelah infeksi.
"Saat merancang eksperimen ini, kami sengaja memilih dua dosis infeksi flu yang relevan dengan wabah musiman pada manusia, satu yang sedang atau mendekati infeksi rata-rata selama musim flu, yakni ketika pasien mengalami demam dan batuk atau sakit tenggorokan tetapi mampu mengatasinya sendiri," kata Antonson, dilansir laman resmi University of Illinois Urbana-Champaign.
Pada infeksi sedang, dampak buruk pada janin relatif kecil. Namun pada infeksi maternal yang parah, peneliti menemukan pertumbuhan janin terhambat.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan ibu hamil sebagai salah satu kelompok berisiko tinggi tertular virus influenza. Vaksinasi selama kehamilan dianjurkan agar ibu dan janin mendapat perlindungan maksimal.
Bukti yang dipublikasikan lewat American Medical Association (AMA) menunjukkan vaksin influenza dapat mengurangi risiko penyakit parah. Dari penelitian selama 10 musim, vaksinasi saat hamil menurunkan risiko penyakit simtomatik pada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan sebesar 44 persen.
"Dibutuhkan beberapa minggu untuk membangun perlindungan setelah vaksinasi, jadi ibu hamil sebaiknya divaksinasi sekarang," ujar Waldorf.
Sebelum menerima vaksinasi influenza, ibu hamil dianjurkan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter. Pastikan Bunda memahami manfaat vaksin bagi diri sendiri dan bayi dalam kandungan.
Segera hubungi tenaga kesehatan jika flu disertai demam tinggi, sesak napas, atau gejala yang memburuk, terutama pada trimester awal kehamilan.
Menjaga kesehatan plasenta berarti menjaga jalur nutrisi dan oksigen bagi janin. Konsultasi rutin dan vaksinasi sesuai anjuran dokter menjadi langkah sederhana yang bisa Bunda lakukan untuk melindungi kehamilan.