Pencarian

PLN Gandeng UNOPS Garap Transisi PLTU hingga Smart Grid, Ada Proyek PLTS di Amerika-Karibia

Kamis, 11 Juni 2026 • 16:06:01 WIB
PLN Gandeng UNOPS Garap Transisi PLTU hingga Smart Grid, Ada Proyek PLTS di Amerika-Karibia
PLN dan UNOPS bekerja sama mengkaji transisi PLTU dan pengembangan smart grid.

BENGKULU — Kerja sama internasional disebut-sebut bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi BUMN yang tengah menghadapi tekanan efisiensi dan inovasi. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kesiapan internal perusahaan, mulai dari kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga tata kelola.

PLN Jadi Ujung Tombak Kolaborasi Global

Salah satu contoh nyata adalah PT PLN (Persero). Perusahaan listrik pelat merah ini menjalin berbagai kolaborasi internasional dalam pengembangan energi terbarukan. Melalui forum global seperti COP28 dan aliansi transisi energi, PLN telah merangkul mitra strategis untuk program peningkatan kapasitas, pendanaan, hingga inisiatif hidrogen hijau.

PLN juga menggandeng UNOPS untuk mengkaji transisi PLTU dan mengembangkan smart grid. Di sisi lain, anak usahanya, PLN Indonesia Power, membidik proyek PLTS skala besar di kawasan Amerika dan Karibia.

Transfer Pengetahuan Kunci Sukses

Menurut analisis yang disusun oleh Evika Dwi Anggraini, mahasiswa Administrasi Publik FISIP Untag Banyuwangi, manfaat utama kerja sama internasional adalah transfer pengetahuan. Lewat kolaborasi dengan perusahaan asing, BUMN bisa mempelajari sistem manajemen modern, teknologi canggih, dan strategi pelayanan yang lebih efektif.

“Transfer pengetahuan menjadi sangat penting karena kemajuan perusahaan tidak hanya bergantung pada besarnya modal, tetapi juga pada kualitas SDM dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global,” tulis Evika dalam opini yang dimuat Javasatu.com.

Biar Tak Bergantung pada Asing

Namun, kerja sama internasional bukan berarti menyerahkan seluruh pengelolaan kepada pihak asing. Kolaborasi harus dilakukan secara selektif dan tetap mengutamakan kepentingan nasional. Jika tidak dikelola dengan baik, ketergantungan pada teknologi dan tenaga ahli asing justru bisa melemahkan kemandirian BUMN.

Keberhasilan kerja sama ini sangat bergantung pada kesiapan internal. Apabila budaya kerja masih birokratis, transparansi rendah, dan inovasi minim, ilmu serta teknologi baru yang diperoleh dari luar tidak akan memberikan manfaat optimal. Reformasi tata kelola dan penguatan integritas menjadi syarat mutlak.

Pada akhirnya, kerja sama internasional memang tidak bisa secara instan menyelamatkan seluruh BUMN. Namun, bila disertai transfer pengetahuan yang efektif dan komitmen berinovasi, kolaborasi global bisa menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing BUMN Indonesia di tengah persaingan global yang kian ketat.

Bagikan
Sumber: javasatu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks