JAKARTA — Tito mengapresiasi kemitraan bilateral yang telah terjalin erat di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, ekonomi, militer, hingga pendidikan dan perubahan iklim. Ia menilai hubungan kedua negara tidak hanya terjadi di level pemerintahan, tetapi juga tercermin dalam kedekatan personal para pemimpinnya.
“Hubungan yang kuat telah terjalin antara kita, baik negara Indonesia maupun Inggris, dalam banyak hal,” ujar Tito kepada awak media usai acara.
Benteng Peninggalan Inggris di Bengkulu
Dalam sambutannya, Tito menyinggung peninggalan sejarah seperti Benteng Fort Marlborough di Bengkulu. Benteng yang dibangun oleh East India Company (EIC) pada abad ke-18 itu menjadi saksi bisu kehadiran Inggris di Sumatera.
Selain benteng, Tito juga menyoroti penemuan bunga Rafflesia Arnoldii yang diketahui dunia melalui ekspedisi dokter asal Inggris Joseph Arnold bersama Sir Thomas Stamford Raffles. Ia juga menyebut Garis Wallace, garis imajiner pembatas persebaran flora dan fauna Asia-Australasia yang diperkenalkan naturalis Inggris Alfred Russel Wallace.
“Peninggalan Sir Alfred Wallace tetap valid dan menjadi referensi bagi setiap pemerintah, komunitas internasional, termasuk para peneliti,” kata Tito.
Sepak Bola Inggris dan Pendidikan di Exeter
Mendagri juga menyoroti kuatnya relasi di bidang olahraga. Menurutnya, banyak masyarakat Indonesia yang menggemari klub-klub sepak bola Inggris dan secara intens mengikuti perkembangan kompetisi di negara tersebut.
Dari sisi personal, Tito mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Inggris. Ia pernah menempuh pendidikan di University of Exeter melalui beasiswa The British Council.
“Perayaan ulang tahun Yang Mulia Raja Charles III yang berkesan dan bergengsi ini akan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan dalam banyak hal,” tandasnya.
Tito menambahkan bahwa pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Raja Charles III beberapa waktu lalu telah menghasilkan komitmen kerja sama pemulihan ekosistem dan pelestarian lingkungan hidup.