BENGKULU — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu optimistis perekonomian daerah pada 2026 mampu tumbuh di kisaran 4,6 hingga 5,2 persen. Proyeksi itu disampaikan dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu yang digelar di Hotel Mercure Bengkulu, Selasa (28/7/2026).
Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Wahyu Yuana, menjelaskan bahwa di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, BI tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Kebijakan itu diambil untuk menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Digitalisasi Bisa Optimalkan Pajak Tanpa Naikkan Tarif
Wahyu menegaskan, transformasi digital pada sistem pembayaran menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu. Menurutnya, digitalisasi mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan keuangan daerah sekaligus mengoptimalkan penerimaan pajak dan retribusi tanpa harus menaikkan tarif.
“Digitalisasi membantu pemerintah daerah mengoptimalkan potensi pendapatan yang selama ini belum tergarap maksimal,” ujarnya dalam paparan yang dihadiri unsur Forkopimda, OJK, akademisi, dan pelaku usaha.
Kopi dan Hilirisasi Jadi Andalan Ekspor
BI juga mendorong percepatan hilirisasi komoditas unggulan Bengkulu. Kopi dinilai memiliki daya saing tinggi di pasar nasional dan internasional sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Selain kopi, sektor perkebunan, pertanian, pertambangan, dan UMKM disebut memiliki potensi besar. Namun, Wahyu menekankan bahwa potensi itu memerlukan dukungan percepatan investasi, pembangunan infrastruktur, serta kepastian hukum agar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi lebih signifikan.
132 Mahasiswa Terima Beasiswa BI, Ekonomi Syariah Raih Penghargaan
Di bidang pengembangan sumber daya manusia, Bank Indonesia terus memperluas program beasiswa bagi mahasiswa di Bengkulu. Saat ini, jumlah penerima beasiswa BI telah mencapai sekitar 132 mahasiswa. Program itu juga diiringi dukungan terhadap berbagai kegiatan penelitian di perguruan tinggi.
Sementara itu, di bidang ekonomi syariah, Wahyu mengapresiasi capaian Provinsi Bengkulu yang berhasil meraih penghargaan nasional dalam peningkatan literasi keuangan syariah. Menurutnya, prestasi itu menjadi modal penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Bengkulu.
BI Perkuat Stabilitas Rupiah Lewat Transaksi Mata Uang Lokal
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI melakukan intervensi di pasar valuta asing. Upaya itu diperkuat dengan perluasan kerja sama transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) bersama sejumlah negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Menutup sarasehan, Wahyu mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi. “Potensi Bengkulu sangat besar. Dengan sinergi, kolaborasi, serta iklim investasi yang semakin baik, kami optimistis pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus meningkat dan manfaatnya dirasakan secara luas oleh masyarakat,” pungkasnya.