BENGKULU — Usia 7 bulan jadi momen penting bagi bayi dalam adat Jawa, ditandai upacara tedak siten sebelum si kecil belajar berjalan. Mengenal rangkaian prosesi, makna filosofis, dan persiapan sederhana di rumah bisa membantu ibu memutuskan apakah tradisi ini cocok diterapkan untuk buah hati.
Upacara tedak siten digelar sebagai penanda bahwa bayi mulai memasuki fase belajar berdiri dan berjalan di atas tanah. Penyanyi dangdut Via Vallen dan suaminya, Chevra Yolandi, baru saja menggelar tradisi ini untuk anak kedua mereka, Shazza, yang berusia 7 bulan.
Bagi ibu muda yang berasal dari keluarga Jawa atau ingin mengenalkan warisan budaya, memahami setiap tahapan tedak siten membantu mempersiapkan acara dengan lebih tenang. Tidak perlu mewah, yang terpenting esensi dan doanya tersampaikan.
Apa Itu Tedak Siten dan Mengapa Dilakukan di Usia 7 Bulan
Tedak siten berasal dari kata "tedak" yang berarti turun dan "siten" dari "siti" yang berarti tanah. Upacara ini menandai pertama kalinya bayi menyentuh tanah, sebagai simbol kesiapan melangkah ke fase pertumbuhan berikutnya.
Adat Jawa umumnya menggelarnya saat bayi berusia sekitar 7 bulan, ketika otot kaki mulai kuat untuk merangkak dan berdiri. Momen ini dianggap tepat karena bayi mulai aktif mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
Rangkaian Prosesi yang Biasanya Digelar
Susunan acara bisa berbeda antar daerah, namun sejumlah tahapan hampir selalu ada. Berikut gambaran umumnya agar ibu bisa menyiapkan daftar kebutuhan.
- Mandi bersih: bayi dimandikan dengan air bunga sebagai lambang membersihkan diri sebelum melangkah ke tanah.
- Menginjak jadah: bayi dituntun menginjak tujuh jadah atau ketan berwarna yang melambangkan tahapan kehidupan.
- Menapaki tangga tebu: bayi dibantu naik tangga dari batang tebu wulung, simbol harapan agar kelak mencapai kedudukan yang baik.
- Masuk kurungan: bayi dimasukkan ke kurungan berisi berbagai benda, lalu benda pertama yang diambil dipercaya menggambarkan minatnya kelak.
- Dilempar udik-udik: bayi digendong dan ditaburi beras kuning serta uang logam sebagai lambang rezeki dan doa keberkahan.
Makna Filosofis di Balik Setiap Simbol
Setiap benda dalam tedak siten membawa pesan tersendiri. Jadah tujuh warna menggambarkan perjalanan hidup yang penuh warna dan harus dilalui dengan kesabaran.
Tebu wulung dipilih karena batangnya lurus dan kuat, menjadi harapan agar anak tumbuh dengan pendirian teguh. Sementara kurungan dan benda di dalamnya menjadi cara orang tua membaca minat anak sejak dini, bukan ramalan yang mengikat.
Persiapan Sederhana untuk Ibu di Rumah
Tidak semua keluarga perlu menggelar acara besar. Banyak ibu kini mengadakan tedak siten skala kecil bersama keluarga inti, dengan tetap mempertahankan inti prosesinya.
Yang perlu disiapkan antara lain jadah atau ketan berwarna, batang tebu, kurungan ayam, beras kuning, dan air bunga untuk memandikan bayi. Sesuaikan jumlah dan jenisnya dengan kemampuan serta tradisi keluarga masing-masing.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Acara Berlangsung
Bayi 7 bulan belum sepenuhnya stabil berdiri, jadi pendampingan orang dewasa wajib dilakukan di setiap tahap. Pastikan tangga tebu dan kurungan dalam kondisi aman, tidak tajam, dan tidak mudah roboh.
Perhatikan juga suhu ruangan dan durasi acara agar bayi tidak kelelahan. Jika si kecil rewel atau mengantuk, hentikan prosesi dan lanjutkan setelah ia cukup istirahat.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi ke Dokter
Tedak siten bukan prosedur medis, namun ada baiknya ibu memeriksakan kondisi bayi lebih dulu bila ia sedang demam, batuk pilek, atau baru saja menjalani imunisasi. Bila bayi belum mampu menopang kepala dengan stabil atau otot kakinya masih sangat lemah, konsultasikan dengan dokter anak sebelum memaksakan posisi berdiri.
Konsultasi juga penting jika ibu ragu soal keamanan bahan yang digunakan, misalnya reaksi alergi terhadap bunga atau beras kuning yang mengenai kulit bayi.
Menyesuaikan Tradisi dengan Kondisi Keluarga
Tedak siten bisa menjadi cara hangat mengenalkan budaya pada anak sejak dini. Bagi ibu yang tidak berlatar Jawa, tradisi ini tetap bisa diadaptasi sebagai bentuk rasa syukur atas tahap tumbuh kembang si kecil.
Yang paling utama bukan kemegahan acaranya, melainkan doa dan perhatian orang tua yang menyertai setiap langkah kecil bayi menuju masa belajarnya.