BENGKULU — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat menyatakan dukungan alsintan diberikan agar petani bisa memanfaatkan teknologi pertanian di sepanjang siklus budidaya hingga panen. Menurutnya, mekanisasi tidak berhenti pada satu tahap, melainkan mencakup pemeliharaan, pascapanen, sampai pengolahan hasil tanaman.
“Bantuan combine harvester ini diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas padi, mempercepat proses panen, serta menekan biaya produksi dan biaya tenaga kerja dengan pemanfaatan teknologi pertanian,” kata Wahyu dalam keterangan resminya.
Traktor hingga Kultivator untuk Padi dan Hortikultura
Paket bantuan yang disalurkan tidak tunggal. Wahyu menyebut pihaknya juga menyerahkan traktor besar, hand tractor, dan kultivator untuk mendorong pengembangan tanaman pangan, khususnya padi, serta komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah.
“Selain combine harvester, kami juga memberikan bantuan berupa traktor besar, hand tractor, dan kultivator untuk mendorong pengembangan tanaman pangan, khususnya padi, serta komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah,” ungkapnya.
Dukungan menyebar ke beberapa titik penerima. Dalam keterangan yang disertai foto, bantuan alsintan diserahkan kepada petani di Bengkulu Selatan.
Hilirisasi Jadi Perhatian: Mesin Sortir dan Roasting Kopi
BI Bengkulu menilai penguatan produksi belum cukup tanpa pengolahan hasil. Karena itu, dukungan sarana pengolahan kopi berupa mesin colour sorter dan mesin roasting turut disalurkan agar komoditas yang dihasilkan memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Pengembangan sektor pertanian tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana hasil pertanian dapat diolah dengan baik sehingga kualitas dan nilai tambahnya meningkat. Dukungan sarana pengolahan kopi diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk dan memperluas peluang usaha,” jelas Wahyu.
Wakaf Produktif: Ayam Petelur hingga Cabai Merah
Selain alsintan dan mesin pengolahan, BI Bengkulu mendorong pengembangan wakaf produktif melalui budidaya ayam petelur, tanaman buah, sayuran, dan cabai merah. Program itu diarahkan agar kegiatan usaha masyarakat memberi manfaat ekonomi berkelanjutan.
“Dari dukungan ini, kami berharap sektor pertanian di Bengkulu semakin berkembang, produktivitas petani meningkat, dan kegiatan usaha yang dijalankan masyarakat dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” tutup Wahyu.
Bagi petani penerima, mekanisasi panen berpotensi memangkas kebutuhan tenaga kerja musiman yang selama ini menjadi komponen biaya besar saat musim panen. Dampaknya akan terlihat pada margin usaha tani padi jika alsintan dirawat dan dioperasikan sesuai jadwal tanam kelompok.