BENGKULU — BRI Danareksa Sekuritas melihat ada celah menarik di pasar saham batu bara Indonesia. Di tengah harga komoditas yang mulai normal, valuasi emiten sektor ini justru dinilai terlalu murah dibandingkan kinerja fundamentalnya. Riset yang terbit Jumat (28/8/2026) ini menyebutkan, pasar masih memberi "hukuman" berlebihan karena kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah.
Padahal, dari sisi neraca dan arus kas, perusahaan tambang batu bara lokal berada dalam posisi yang jauh lebih sehat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Kondisi ini menciptakan peluang bagi investor yang punya horizon investasi lebih panjang.
Data riset menunjukkan sektor batu bara saat ini diperdagangkan pada PE 6,1 kali. Angka itu sekitar 0,7 standar deviasi di bawah rata-rata valuasi lima tahun terakhir. Artinya, secara statistik, harga saham sektor ini sedang berada di zona murah.
Diskon ini terjadi bukan karena kinerja perusahaan memburuk. Sebaliknya, keseimbangan antara pasokan dan permintaan batu bara global mulai membaik. BRI Danareksa menilai pasar terlalu fokus pada isu kebijakan transisi energi dan aturan domestic market obligation (DMO) sehingga melupakan daya tahan laba emiten.
Untuk tiga bulan ke depan, BRI Danareksa Sekuritas memilih bersikap hati-hati dengan menurunkan rekomendasi taktis menjadi netral. Ruang kenaikan harga saham dalam jangka pendek dinilai terbatas. Namun untuk investasi enam hingga dua belas bulan ke depan, mereka tetap mempertahankan rekomendasi overweight.
Artinya, investor disarankan tidak terburu-buru mengejar kenaikan harga harian. Strategi yang lebih bijak adalah mencicil posisi beli ketika harga turun, atau menunggu momentum perbaikan sentimen pasar.
Bagi investor ritel, valuasi murah seperti ini biasanya menarik perhatian. Namun perlu diingat, sektor batu bara tetap sensitif terhadap perubahan kebijakan energi nasional dan fluktuasi harga komoditas global. Diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci.
Keputusan BRI Danareksa mempertahankan overweight untuk jangka panjang juga mengindikasikan bahwa risiko penurunan laba emiten batu bara sudah diperhitungkan. Selama perusahaan menjaga disiplin biaya dan tidak berekspansi agresif dengan utang, arus kas mereka tetap mampu membayar dividen yang menarik.