Tren permintaan mobil diesel bekas di Indonesia mulai merosot tajam seiring lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang menyentuh angka Rp 23.000 per liter. Kondisi ini memicu koreksi harga di tingkat diler karena nilai jual kendaraan tersebut dianggap tidak lagi ekonomis bagi konsumen.
Pasar mobil bekas di Indonesia mengalami pergeseran peta kekuatan pada Mei 2026. Kendaraan bermesin diesel yang selama ini menjadi primadona karena faktor efisiensi, kini mulai ditinggalkan calon pembeli. Penurunan minat ini merupakan dampak langsung dari melambungnya harga solar nonsubsidi di berbagai operator SPBU.
Jeffrey Andika, Pendiri sekaligus CEO Otospector dan diler mobil bekas Otos.id, mengonfirmasi bahwa lesunya pasar diesel sudah dirasakan langsung oleh para pelaku usaha. Berdasarkan laporan dari berbagai showroom rekanan, stok mobil diesel kini lebih lama mengendap di garasi diler.
"Kalau soal mobil diesel, info dari showroom rekanan yang pasti permintaan menurun mengakibatkan harga mobilnya anjlok," ungkap Jeffrey pada Jumat (8/5/2026). Meskipun angka pasti koreksi harga masih dalam tahap pendataan, sentimen negatif dari para pedagang sudah mulai masif terdengar.
Penurunan harga ini menjadi langkah realistis bagi pemilik showroom agar unit tidak tertahan terlalu lama. Selama ini, mesin diesel dikenal memiliki resale value yang stabil. Namun, ketika biaya operasional membengkak, keunggulan tersebut perlahan luntur di mata konsumen yang sangat sensitif terhadap harga BBM.
Lonjakan harga BBM diesel memang tergolong drastis dibandingkan periode sebelumnya. Di SPBU Pertamina, harga Dexlite kini berada di angka Rp 23.600 per liter, naik signifikan sebesar Rp 9.400 dari bulan lalu. Sementara itu, Pertamina Dex telah mencapai Rp 23.900 per liter, padahal pada Maret 2026 harganya masih di level Rp 14.500 per liter.
Kenaikan harga juga terjadi di SPBU swasta dengan rincian sebagai berikut:
Alasan utama konsumen memilih mobil diesel seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, atau Isuzu Panther adalah kemampuan mesinnya dalam mengolah bahan bakar secara efisien untuk jarak jauh. Namun, selisih harga yang sangat jauh dengan bensin membuat kalkulasi penghematan tersebut tidak lagi relevan.
"Selama ini konsumen beli mobil diesel supaya irit. Kalau harga solar jadi tinggi begitu, jadi nggak ada gunanya beli mobil diesel," tambah Jeffrey. Kenaikan biaya operasional yang signifikan otomatis mengubah profil mobil diesel dari kendaraan "ekonomis" menjadi kendaraan hobi atau operasional berat yang mahal.
Penyebab utamanya adalah kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi yang sangat tinggi, sehingga biaya operasional kendaraan tidak lagi sebanding dengan efisiensi mesin yang ditawarkan.
Harga Dexlite mengalami kenaikan sebesar Rp 9.400 per liter menjadi Rp 23.600 per liter dibandingkan dengan harga pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan data terbaru, BBM diesel termahal dijual oleh VIVO melalui produk Diesel Primus dengan harga Rp 30.890 per liter.