BENGKULU — Wakil Ketua II DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menegaskan bahwa fenomena orang tua yang memaksakan anaknya masuk ke sekolah favorit harus dihentikan. Ia menyebut kualitas pendidikan di seluruh SMA di Kota Bengkulu kini sudah setara.
“SMA 8 sudah bagus, SMA 7 bagus, SMA 1 bagus, SMA 4 bagus, SMA 6 juga bagus. Saya pikir sekarang sudah banyak pilihan,” ujar Teuku Zulkarnain.
Teuku mengungkapkan masih banyak ditemukan praktik titipan siswa oleh pihak berpengaruh. Akibatnya, calon siswa yang tinggal dalam radius zonasi justru tersingkir.
“Saya menemukan ada keluarga yang memang masuk radius zona, tapi karena ada titipan dari orang kuat, anak ini tersingkir,” katanya.
Ia meminta para pejabat dan tokoh masyarakat tidak lagi memaksakan titipan siswa ke sekolah tertentu. Menurutnya, kepala sekolah kerap berada dalam tekanan ketika menerima titipan dari orang kuat.
Teuku menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) bukan lagi sekadar imbauan. Gubernur Bengkulu telah mengeluarkan perintah tegas agar seluruh sekolah mematuhi regulasi yang berlaku.
“Kalau imbauan bukan lagi sekadar imbauan, tapi sudah perintah dari gubernur terkait aturan. Jadi tidak boleh lagi melanggar aturan yang aneh-aneh,” ujar Teuku Zulkarnain.
Ia meminta kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah untuk taat pada mekanisme PPDB yang sudah ditetapkan. Jalur penerimaan siswa terbagi dalam tiga kategori: zonasi, prestasi, dan perpindahan orang tua.
Pemerintah daerah berencana menyamakan standar pendidikan tidak hanya di Kota Bengkulu, tetapi juga di tingkat kabupaten. Teuku menilai banyak siswa dari daerah yang memaksakan diri masuk ke sekolah di kota karena fasilitas di daerah dinilai kurang.
“Di kabupaten juga begitu. Standarnya nanti kita samakan, yang fasilitasnya kurang akan kita lengkapi. Bahkan dari kabupaten banyak juga yang memaksa masuk SMA di kota. Jangan lagi lah,” tegasnya.
Menurut Teuku, keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh nama besar sekolah. Ia mengingatkan bahwa kemauan belajar siswa jauh lebih penting.
“Kalau masuk SMA yang bagus tapi anaknya tidak mau belajar, ya sama saja,” katanya.