BENGKULU — Kenaikan harga mi instan di Bengkulu dalam beberapa pekan terakhir membuat mahasiswi perantau yang tinggal di kos-kosan menjerit. Bagi mereka, mi instan bukan sekadar camilan, melainkan makanan pokok penopang hidup sehari-hari yang kini harganya mulai memberatkan.
Keluhan ini mencuat dari sejumlah mahasiswi di Kota Bengkulu yang mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli sekantung mi instan. Padahal, di tengah keterbatasan biaya hidup, mi instan kerap menjadi pilihan paling praktis dan ekonomis di akhir bulan.
Seorang mahasiswi semester akhir yang tinggal di kawasan Sawah Lebar, Kota Bengkulu, menceritakan perubahannya dalam beberapa pekan terakhir. "Dulu saya bisa beli tiga bungkus mi goreng seharga Rp 10.000. Sekarang, uang segitu cuma dapat dua bungkus. Harganya naik seribu sampai dua ribu per bungkus," ujarnya.
Ia mengaku mi instan sudah menjadi menu andalan, terutama saat uang kiriman dari orang tua belum turun. "Ini penopang hidup di kos. Kalau lagi bokek, ya mi lagi, mi lagi. Tapi sekarang, mi aja mulai mahal," keluhnya.
Fenomena ini bukan hanya soal kenaikan harga. Lebih dari itu, ini menyoroti betapa rentannya kondisi ekonomi sebagian mahasiswa perantau. Mi instan, yang dulu dianggap sebagai makanan murah dan mudah, kini mulai terasa berat di kantong.
Beberapa mahasiswi mengaku mulai mengurangi frekuensi konsumsi atau beralih ke merek lain yang lebih murah. Namun, pilihan itu terbatas karena hampir semua merek mi instan di pasaran ikut menyesuaikan harga.
Kenaikan harga mi instan di Bengkulu diduga imbas dari melonjaknya harga gandum global dan biaya distribusi. Meski belum ada pernyataan resmi dari distributor setempat, para pedagang di warung dan toko kelontong di sekitar kampus sudah mulai memasang harga baru.
Seorang pemilik warung di dekat kampus Universitas Bengkulu mengonfirmasi kenaikan ini. "Dari agen sudah naik semua. Kami ikut saja, tapi omset malah turun karena pembeli pada mengurangi jatah belanjanya," katanya.
Belum ada kebijakan khusus dari Pemkot Bengkulu untuk menyikapi kenaikan ini. Para mahasiswi hanya bisa berharap harga segera stabil agar beban hidup mereka tidak semakin berat.