BENGKULU — Pernyataan itu disampaikan Dony dalam acara Jogja Financial Festival 2026 yang digelar CNBC Indonesia bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). Di hadapan peserta, ia memaparkan peran Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang tidak hanya mengelola aset, tetapi juga mendorong percepatan pembangunan ekonomi.
"Kontribusi BUMN ke APBN tahun lalu mencapai Rp 335 triliun. Tahun ini kami targetkan naik ke Rp 360 triliun," ujar Dony dalam sesi dialog yang dipandu Andi Shalini.
Dony menjelaskan, pembentukan Danantara bukan sekadar wacana konsolidasi. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan BUMN dari berbagai persoalan klasik: tata kelola yang tumpang tindih, efisiensi rendah, dan minimnya sinergi antarentitas. Dengan satu komando, perusahaan seperti Pertamina, PLN, Telkom, dan BRI bisa saling mengisi.
“Pengelolaan secara terintegrasi membuat kami bisa memotong biaya yang tidak perlu dan memaksimalkan laba. Ujungnya, dividen yang disetor ke negara lebih besar,” kata Dony.
Kinerja keuangan yang membaik, menurut Dony, berdampak langsung ke layanan publik. PLN misalnya, dengan suntikan dana dari Danantara, bisa mempercepat elektrifikasi desa. BRI punya ruang lebih longgar untuk menurunkan bunga KUR menjadi 6 persen, menyasar 200 ribu lebih pelaku UMKM.
Tak hanya itu, Pertamina disebut mampu menjaga harga BBM tetap terjangkau meski harga minyak dunia fluktuatif. “Semua itu dimungkinkan karena BUMN punya profit yang sehat,” tegas Dony.
Dengan tren kenaikan laba di sektor energi, telekomunikasi, dan perbankan, Danantara optimistis target setoran Rp 360 triliun pada 2026 tercapai. Dony menambahkan, pihaknya terus mendorong efisiensi operasional dan ekspansi bisnis di luar negeri.
“Kami tidak hanya bicara untung, tapi bagaimana keuntungan itu kembali ke rakyat dalam bentuk infrastruktur, subsidi, dan program sosial,” pungkasnya.