BENGKULU — Bertanding di lapangan tanah liat Paris, Aldila/Janice sempat memberikan harapan besar kepada publik tenis Indonesia. Mereka merebut set pertama melalui tie-break 7-6 setelah pertarungan sengit. Namun, perlawanan itu luntur di dua set berikutnya.
Pasangan Indonesia memulai laga dengan kurang mulus. Mereka tertinggal 0-1 dan kemudian 1-4 dari Bouzkova/Sorribes. Namun, semangat juang Aldila/Janice perlahan muncul. Mereka mengejar ketertinggalan hingga menyamakan skor 4-4.
Pertandingan berlangsung alot. Aldila/Janice sempat unggul 5-4 dan kembali memimpin 6-5 setelah lawan menyamakan 5-5. Duel ketat terus terjadi hingga skor 6-6, memaksa set pertama ditentukan lewat tie-break. Pada momen krusial itu, pasangan Indonesia tampil lebih tenang dan merebut set pertama dengan kemenangan 7-6.
Sayangnya, momentum positif itu tidak bertahan. Memasuki set kedua, Bouzkova/Sorribes mengubah strategi. Mereka tampil lebih agresif, memukul bola-bola keras ke sudut lapangan yang menyulitkan pergerakan Aldila/Janice.
Pasangan Ceko-Spanyol itu mendominasi permainan dan menutup set kedua dengan skor telak 6-2. Pertahanan Aldila/Janice yang solid di set pertama seolah lenyap, digantikan oleh serangan lawan yang konsisten.
Memasuki set ketiga, Aldila/Janice mencoba bangkit. Mereka memberikan perlawanan sengit, saling berbalas poin dengan Bouzkova/Sorribes. Pertandingan berlangsung ketat dan skor sempat berjalan imbang.
Namun, pada momen-momen kritis, pengalaman lawan di turnamen Grand Slam menjadi pembeda. Aldila/Janice akhirnya harus mengakui keunggulan Bouzkova/Sorribes setelah kalah 4-6. Hasil ini memastikan langkah ganda putri Indonesia terhenti di babak pertama sektor ganda putri Roland Garros 2026.
Kekalahan ini menjadi catatan tersendiri bagi Aldila/Janice. Mereka sebenarnya mampu bersaing dengan pasangan yang lebih diunggulkan, terutama di set pertama. Namun, inkonsistensi permainan di set kedua menjadi faktor utama kegagalan mereka melaju ke babak selanjutnya.
Bagi Aldila Sutjiadi, ini merupakan pengalaman berharga untuk terus meningkatkan level permainan di turnamen Grand Slam. Sementara bagi Janice Tjen, turnamen ini menjadi ajang pembelajaran untuk bersaing di level tertinggi tenis dunia.