Angka Kelahiran Jepang Anjlok ke 671.236 Bayi pada 2025, Krisis Demografi Makin Dalam

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 13:38:01 WIB
Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2025 tercatat 671.236, menandai penurunan signifikan.

BENGKULU — Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang merilis data demografi terbaru pada Rabu (3/6) yang menunjukkan tren penurunan kelahiran belum tertahan. Tingkat kesuburan total (TFR) juga merosot ke 1,14—jauh di bawah angka 2,1 yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi tanpa imigrasi. Baik kelahiran maupun TFR sama-sama turun selama satu dekade penuh.

Kelahiran Jauh di Bawah Proyeksi, Kematian Masih Dominan

Data 2025 menjadi pukulan telak karena realisasinya lebih rendah dari perkiraan. National Institute of Population and Social Security Research pada 2023 memproyeksikan angka kelahiran tahun ini masih sekitar 749.000 bayi. Artinya, selisih antara proyeksi dan realitas mencapai nyaris 78.000 jiwa—menunjukkan krisis berlangsung lebih akut dari perkiraan para ahli.

Sementara itu, jumlah kematian mencapai 1.589.489 orang. Meski turun untuk pertama kalinya dalam lima tahun—diduga karena penurunan kasus fatal COVID-19—angka kematian tetap hampir 2,4 kali lipat dari kelahiran. Jepang telah mencatat penurunan populasi alami selama 19 tahun beruntun.

Pernikahan Naik, Tapi Belum Cukup Dorong Kelahiran

Ada sedikit sinyal positif dari data pernikahan. Jumlah pasangan menikah naik untuk tahun kedua berturut-turut menjadi 489.119 pasangan. Rata-rata usia menikah juga turun menjadi 31 tahun untuk laki-laki dan 29,7 tahun untuk perempuan. Di Jepang, kelahiran masih sangat terkait erat dengan jumlah pernikahan, sehingga kenaikan ini memberi secercah harapan.

Namun, dampaknya belum merata. Hanya empat dari 47 prefektur yang mencatat kenaikan kelahiran: Tokyo, Toyama, Ishikawa (kenaikan pertama dalam 10 tahun), dan Kagawa (pertama dalam empat tahun). Selebihnya, kelahiran terus menurun.

Tokyo Paling Rendah, Okinawa Paling Subur

Disparitas regional sangat tajam. Tokyo menjadi prefektur dengan TFR terendah, hanya 0,96—artinya rata-rata perempuan di ibu kota melahirkan kurang dari satu anak seumur hidup. Disusul Hokkaido dan Miyagi yang sama-sama 1,00. Sebaliknya, Okinawa mencatat TFR tertinggi dengan 1,52, disusul Miyazaki 1,46 dan Fukui 1,45.

Kementerian Kesehatan Jepang menilai perlambatan laju penurunan pada 2025—yang lebih landai dibanding tahun-tahun sebelumnya—berkaitan dengan stabilnya jumlah penduduk usia 25-35 tahun, generasi yang lahir sekitar 1990-an. Namun, jumlah bayi yang lahir masih jauh dari cukup untuk menggantikan populasi yang menua dan meninggal.

Dampak Ekonomi dan Sosial Makin Nyata

Krisis demografi Jepang bukan sekadar angka kelahiran. Ini menyangkut penyusutan tenaga kerja, beban biaya pensiun dan layanan kesehatan yang membengkak, serta prospek ekonomi jangka panjang. Pada 2024, kelahiran Jepang sudah anjlok di bawah 700.000 untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1899. Data 2025 mempertegas bahwa tekanan demografis negeri sakura itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Reporter: Sutomo
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top