BENGKULU — Peristiwa pertama terjadi saat rombongan Kelompok Terbang (Kloter) 12 asal Kota Malang masih berada di udara. Sekitar 30 menit sebelum mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya, seorang jemaah laki-laki berusia 70 tahun mengembuskan napas terakhir. Tim medis di pesawat telah berupaya memberikan pertolongan, namun jemaah yang memiliki riwayat penyakit jantung itu tak tertolong.
Belum genap dua jam setelah pesawat mendarat, duka kembali datang. Seorang jemaah perempuan berusia 58 tahun, masih dari Kloter 12, meninggal dunia saat berada di dalam bus yang mengangkut rombongan dari bandara menuju Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES).
Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya sekaligus Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), Rosidi Roslan, mengonfirmasi indikasi awal penyebab kematian kedua jemaah adalah serangan jantung. "Ya memang pada waktu di pesawat ya dan di bus itu kan indikasinya jantung. Serangan jantung," kata Rosidi.
Dari total 49 jemaah yang wafat, rinciannya adalah 47 orang meninggal di Arab Saudi, satu orang di pesawat, dan satu orang di dalam bus. Mayoritas kematian di Arab Saudi dipicu komplikasi penyakit bawaan yang kambuh akibat kelelahan fisik pasca-puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Rosidi menjelaskan, penyakit bawaan seperti hipertensi dan gangguan jantung menjadi penyebab paling dominan. Ibadah haji yang menguras energi secara beruntun ditambah perubahan iklim drastis disebut sebagai pemicu utama ambruknya ketahanan tubuh jemaah. "Kita tahu haji itu ibadah fisik jadi dari sisi fisik ya kesehatan itu sangat diperlukan," ujarnya.
Meski setiap jemaah telah melalui pemeriksaan istithaah kesehatan di tingkat kabupaten sebelum berangkat, Rosidi mengakui penyakit kerap muncul ketika ada pemicu, seperti kelelahan dalam perjalanan menuju embarkasi. Persentase jemaah berstatus risiko tinggi (risti) yang tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya disebut masih mendominasi setiap kloter.
PPIH Debarkasi Surabaya menekankan panduan pemeriksaan medis yang mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan sudah sangat ketat dan tercatat sistematis. Namun, Rosidi secara khusus mengingatkan jemaah lanjut usia di atas 65 tahun yang memiliki penyakit penyerta untuk ekstra waspada. Ketidakmampuan beradaptasi terhadap cuaca ekstrem serta kelelahan fisik yang dipaksakan dinilai sebagai faktor paling fatal.
Saat ini, kedua jenazah jemaah asal Malang telah dibawa ke RSUD Haji Jawa Timur sebelum diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing. Rosidi menyampaikan duka mendalam atas kepergian para jemaah tersebut.